Bahasa berperan sebagai sarana pengungkap ekspresi perasaan manusia yang sangat bergantung pada konteks tuturan. Dalam kajian pragmatik, fenomena ini diwujudkan melalui tindak tutur ekspresif yang kini banyak muncul secara spontan dan natural di media digital seperti podcast pada platform Spotify. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk penanda lingual dan menganalisis maksud konteks tindak tutur ekspresif dalam Podcast Mandan Kenthir episode Tuku Barang Langka. Episode Tuku Barang Langka dipilih karena kecenderungan penggunaan bahasa Jawa ragam informal sehingga memicu munculnya beragam tindak tutur ekspresif.Penelitian ini menggunakan pendekatan pragmatik dengan metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui teknik Simak Bebas Libat Cakap (SBLC) dan teknik catat, kemudian dianalisis menggunakan metode padan pragmatis dengan teknik dasar Pilah Unsur Penentu (PUP) serta teknik lanjutan Hubung Banding Membedakan (HBB).Hasil penelitian menunjukkan adanya 63 data yang terbagi ke dalam 13 kategori subtindak tutur ekspresif, meliputi: heran, kaget, memastikan, meyakinkan, memuji, kesal, menyindir, bersyukur, marah, sedih, mengejek, meminta maaf, dan pasrah. Di antara kategori tersebut, kecenderungan interaksi dalam data ini sangat kuat mengarah pada penggunaan subtindak tutur memastikan. Fenomena ini merefleksikan kondisi sosial kemasyarakatan yang secara psikologis selalu membutuhkan konfirmasi dan kejelasan dalam berkomunikasi. Sebaliknya, bentuk ekspresi pasrah menjadi kategori yang paling minim ditemukan. Hal ini menunjukkan bahwa sikap berserah diri atau mengikhlaskan suatu keadaan sering kali menjadi respons emosional yang paling berat dan jarang siap dihadapi oleh masyarakat dalam dinamika tutur sehari-hari. Berbagai temuan ini membuktikan bahwa penanda lingual dalam interaksi media digital berfungsi sebagai alat penegas emosi yang sangat terikat dengan situasi tutur. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa media digital seperti Spotify bukan sekadar hiburan, melainkan ruang pragmatik yang kaya akan data kebahasaan yang menggambarkan realitas emosional masyarakat.