Buruh pabrik tembakau menghadapi berbagai tuntutan pekerjaan, seperti target produksi, pekerjaan repetitif, tekanan kerja, serta kondisi lingkungan kerja yang kurang nyaman sehingga berpotensi menimbulkan stres kerja dan memengaruhi kesejahteraan di tempat kerja. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keterikatan kerja yang berdampak pada semangat, dedikasi, dan keterlibatan buruh dalam pekerjaan. Hipotesis penelitian meliputi: (1) terdapat hubungan stres kerja dan kesejahteraan di tempat kerja secara simultan dengan keterikatan kerja, (2) terdapat hubungan stres kerja dengan keterikatan kerja, dan (3) terdapat hubungan kesejahteraan di tempat kerja dengan keterikatan kerja. Penelitian ini menguji hubungan stres kerja dan kesejahteraan di tempat kerja dengan keterikatan kerja pada 248 buruh yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala Likert, dengan skala keterikatan kerja yang diadaptasi dari The Utrecht Work Engagement Scale (UWES) milik Bakker dan Leiter (2010) dengan reliabilitas α = 0,93, skala stres kerja yang diadaptasi dari Rice (1999) dengan reliabilitas α = 0,919, dan skala kesejahteraan di tempat kerja yang diadaptasi dari Well-Being at Work Scale (WBWS) milik Demo dan Paschoal (2016) dengan reliabilitas α = 0,90. Dianalisis dengan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan stres kerja dan kesejahteraan di tempat kerja berhubungan signifikan dengan keterikatan kerja. Secara parsial, kedua variabel juga berhubungan signifikan dengan keterikatan kerja. Stres kerja dan kesejahteraan di tempat kerja secara bersama-sama memberikan kontribusi sebesar 42,6% terhadap keterikatan kerja, dengan stres kerja sebagai faktor yang lebih dominan (SE = 27,4%; SR = 63,62%).