Implementasi pendidikan inklusif di Indonesia masih menghadapi tantangan besar terkait keterbatasan Guru Pendamping Khusus (GPK), sehingga guru reguler kerap menjalankan peran tambahan dan menghadapi peningkatan beban kerja. Kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan psikologis berupa stres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris hubungan antara beban kerja dan stres kerja pada guru Sekolah Dasar (SD) inklusi di Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Responden penelitian berjumlah 112 guru SD inklusi negeri yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan pendekatan purposive, yaitu guru aktif yang mengajar di kelas yang terdapat Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK). Data dikumpulkan menggunakan adaptasi Teacher Stress Inventory (TSI) dengan reliabilitas sebesar 0.979 dan adaptasi skala beban kerja berdasarkan teori Munandar dengan reliabilitas sebesar 0.874. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja memiliki hubungan positif dan signifikan dengan stres kerja (p < 0.001). Koefisien korelasi (r) sebesar 0.503 menunjukkan hubungan pada kategori sedang, dengan kontribusi beban kerja terhadap stres kerja sebesar 25.3% (R² = 0.253). Kesimpulan penelitian ini adalah hipotesis diterima, yaitu terdapat hubungan positif antara beban kerja dan stres kerja pada guru SD inklusi. Artinya, semakin tinggi beban kerja yang dipersepsikan guru, semakin tinggi pula tingkat stres kerja yang dialami. Temuan ini menunjukkan pentingnya penambahan sumber daya guru pendamping dan penguatan dukungan sistematis untuk membantu mengurangi beban kerja guru di sekolah inklusi.