Jagung merupakan komoditas tanaman pangan unggulan di Kabupaten Ponorogo dengan produksi yang
cenderung meningkat. Namun, peningkatan produksi tidak selalu diikuti oleh peningkatan pendapatan. Faktor harga
jual, biaya produksi dan pascapanen, kualitas produk, serta posisi petani dalam rantai pasok turut memengaruhi
pendapatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi rantai pasok, efisiensi kinerja, dan merumuskan upaya
peningkatan rantai pasok. Metode yang digunakan adalah deskriptif analitis, dengan penentuan lokasi secara
purposive. Sampel penelitian terdiri dari 98 petani yang dipilih menggunakan proportional random sampling dan 19
lembaga pemasaran yang ditentukan melalui snowball sampling. Data primer dan data sekunder dianalisis
menggunakan kerangka Food Supply Chain Network, marjin pemasaran, farmer’s share, dan teori upgrading. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa rantai pasok jagung melibatkan petani, pedagang pengepul desa dan kecamatan,
pedagang besar, Perum Bulog, serta konsumen akhir yang membentuk lima saluran pemasaran. Seluruh saluran telah
berjalan efisien dengan farmer’s share diatas 70%. Saluran 4 (petani – pedagang besar – konsumen) memiliki kinerja
terbaik dengan marjin pemasaran rendah (Rp425/kg) dan farmer’s share tertinggi (93,16%). Manajemen rantai
ditingkat hulu bersifat informal berdasarkan kepercayaan dan hubungan sosial, transaksi didominasi oleh sistem tunai,
sumber daya ditingkat petani lebih sederhana, serta ketergantungan petani terhadap modal dari pengepul dan
ketimpangan informasi harga menyebabkan posisi tawar petani relatif lemah. Upaya peningkatan direkomendasikan
melalui perbaikan pascapanen dengan pengadaan mesin dryer komunal, peningkatan produk dengan memperbaiki
mutu melalui penggunaan benih unggul dan perbaikan akses pupuk, serta peningkatan fungsi melalui penguatan peran
kelembagaan petani dalam penyimpanan, permodalan, dan pemasaran kolektif.