Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) memiliki tuntutan dan tanggung jawab kerja yang kompleks sehingga berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka dan berdampak pada kualitas pengajaran yang diberikan. Efikasi diri guru dan regulasi emosi dapat berperan sebagai faktor protektif dalam menjaga kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri guru dan regulasi emosi dengan kesejahteraan psikologis pada guru SLB di Surakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif korelasional dengan jumlah partisipan sebanyak 78 guru SLB yang dipilih dengan menggunakan teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan instrumen yang digunakan meliputi Skala Kesejahteraan Psikologis (α = 0,903), Skala Efikasi Diri Guru (α = 0,889), dan Skala Regulasi Emosi (α = 0,798). Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, efikasi diri guru dan regulasi emosi terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan kesejahteraan psikologis (R = 0,725; p < 0,05). Nilai Adjusted R Square sebesar 0,513 menunjukkan bahwa kedua variabel secara simultan mampu menjelaskan varians kesejahteraan psikologis sebesar 51,3%. Secara parsial, efikasi diri guru memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kesejahteraan psikologis (β = 0,707; p < 0,001), sedangkan regulasi emosi tidak memiliki hubungan signifikan dengan kesejahteraan psikologis (β = 0,033; p > 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa efikasi diri guru berperan penting dalam menjaga kondisi psikologis guru dalam menghadapi tuntutan kerja. Sementara itu, regulasi emosi tidak berhubungan secara langsung dengan kesejahteraan psikologis, sehingga kemampuannya dalam menjelaskan varians kesejahtereraan psikologis relatif terbatas. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan efikasi diri guru untuk mendukung kesejahteraan psikologis guru SLB dalam menghadapi tuntutan kerja dengan lebih optimal.