Ketidakseimbangan beban kerja antar stasiun kerja pada lini produksi stator 25 RUN di PT. XYZ menyebabkan tingginya idle time dan rendahnya efisiensi lini produksi. Kondisi awal lini produksi menunjukkan line efficiency sebesar 80,32%, balance delay 19,68%, smoothness index 27,08, dan idle time 49,08 detik, serta cycle time aktual 41,57 detik yang melebihi takt time 28,38 detik. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keseimbangan lini produksi menggunakan metode heuristik Ranked Positional Weight (RPW), Largest Candidate Rule (LCR), dan J-Wagon. Penelitian ini dilakukan pada 46 elemen kerja yang terbagi ke dalam 6 stasiun kerja. Hasil perhitungan deterministik menunjukkan bahwa ketiga metode usulan mampu meningkatkan performansi lini produksi, dengan metode RPW dan LCR menghasilkan line efficiency sebesar 90,03%, balance delay 9,97%, smoothness index 11,44, dan idle time 22,18 detik. Metode J-Wagon menghasilkan performansi terbaik dengan line efficiency sebesar 92,82%, balance delay 7,18%, smoothness index 8,84, dan idle time 15,49 detik. Selanjutnya, hasil perhitungan deterministik divalidasi menggunakan simulasi discrete event simulation dengan software Arena melalui 30 replikasi untuk setiap skenario dan waktu kerja efektif 473 menit per shift. Waktu proses elemen kerja dimodelkan menggunakan distribusi triangular berdasarkan data pengamatan aktual. Hasil simulasi menunjukkan bahwa seluruh metode usulan mampu meningkatkan output produksi dari sekitar 943 unit per shift pada kondisi awal menjadi sekitar 1009 unit per shift. Pengujian statistik menggunakan Kruskal-Wallis dan Dunn Test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan output yang signifikan antara kondisi awal dan metode usulan dengan nilai p = 0,00, namun tidak terdapat perbedaan signifikan antar ketiga metode usulan dengan nilai p = 1,00. Analisis Work in Process (WIP) menggunakan Kruskal-Wallis dan Dunn Test menunjukkan bahwa metode J-Wagon menghasilkan rata-rata WIP terendah sebesar 64,47 unit, berbeda signifikan dibanding metode RPW (147,70 unit) dan LCR (147,63 unit) yang keduanya tidak berbeda signifikan satu sama lain. Berdasarkan seluruh parameter evaluasi, metode J-Wagon ditetapkan sebagai metode terbaik dan direkomendasikan untuk diterapkan pada lini produksi stator 25 RUN. Secara keseluruhan, penerapan metode J-Wagon mampu meningkatkan line efficiency dari 80,32% menjadi 92,82%, menurunkan balance delay dari 19,68% menjadi 7,18%, serta menurunkan idle time dari 49,08 detik menjadi 15,49 detik, tanpa menambah jumlah stasiun kerja maupun operator. Dari sisi WIP, keunggulan J-Wagon yang signifikan dibandingkan RPW dan LCR menunjukkan bahwa metode ini menghasilkan aliran produksi yang lebih lancar dengan tingkat penumpukan produk dalam proses yang jauh lebih rendah, sehingga berpotensi menurunkan lead time dan biaya penyimpanan barang dalam proses secara keseluruhan.