Penelitian ini
dilatarbelakangi oleh masih adanya bias gender dalam hubungan pernikahan dan konstruksi peran tradisional di
masyarakat yang mendorong munculnya fenomena marriage is scary. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui konstruksi sosial, faktor internal dan eksternal,
serta dampak dari fenomena marriage is scary oleh generasi Z. Teori yang
digunakan yaitu teori konstruksi sosial atas realitas dari Peter L. Berger dan
Thomas Luckmann, serta teori jaringan aktor dari Bruno Latour. Penelitian ini dilakukan
di Kota Surakarta dan merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber
data penelitian ini berasal sumber data primer: hasil wawancara dan observasi,
dan sumber data sekunder: dokumentasi, jurnal penelitian maupun berita yang
relevan. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan informan
kunci yaitu sosiolog, informan utama: generasi Z, dan informan pendukung:
pasangan yang sudah menikah dan konselor pra-nikah. Jumlah informan dalam
penelitian ini adalah 13 informan. Validitas data yang digunakan yaitu
triangulasi sumber. Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan
Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi sosial dalam fenomena marriage
is scary oleh generasi Z di Kota Surakarta dapat dijelaskan melalui tiga tahapan
meliputi eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Konstruksi sosial ini
juga dapat dilihat dalam empat tahapan actor network theory, yaitu aktan,
proses translasi, jaringan, dan kotak hitam, di mana adanya ketakutan terhadap
pernikahan bisa diterima begitu saja oleh masyarakat tanpa mempertanyakan
bagaimana ketakutan itu sendiri terbentuk. Dalam proses konstruksi sosial
tersebut dipengaruhi oleh faktor internal, meliputi pengalaman pribadi,
perubahan orientasi nilai personal, dan tingginya kesadaran akan kesehatan
mental serta faktor eksternal, yang meliputi pengaruh lingkungan sekitar, teman
dekat, penggunaan media sosial, dan struktur ekonomi negara. Dampak dari
konstruksi sosial oleh generasi Z ini berupa adanya keputusan generasi Z untuk menunda
atau menolak pernikahan, perubahan makna pernikahan, dan sikap lebih selektif
dalam memilih pasangan.