Kecamatan Nguntoronadi didominasi oleh topografi berbukit dan
bergelombang dengan kemiringan lereng bervariasi, sehingga wilayah ini rentan
mengalami degradasi lahan, khususnya erosi tanah. Kerentanan tersebut semakin
dipengaruhi oleh aktivitas pertanian yang berlangsung pada berbagai penggunaan
lahan dan berdampak pada perubahan karakteristik tanah. Pemanfaatan lahan yang
dilakukan secara terus-menerus tanpa disertai upaya konservasi, akan menurunkan
kualitas tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui indeks kualitas tanah,
pengaruh berbagai penggunaan lahan terhadap indeks kualitas tanah, dan
menemukan faktor penentu untuk menyusun rekomendasi perbaikan. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif eksploratif melalui survei lapangan yang didukung
oleh data hasil analisis laboratorium. Penelitian dilakukan pada tiga penggunaan
lahan hutan, sawah, dan tegalan, dengan menilai kualitas tanah berdasarkan 13
indikator yaitu sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Penentuan lokasi pengambilan
sampel menggunakan metode purposive sampling pada 12 SPL dengan 3 kali
ulangan sehingga diperoleh total 36 titik sampel. Nilai IKT diperoleh dengan
skoring kualitas tanah. Hasil analisis menunjukkan nilai IKT di lokasi penelitian
tergolong rendah yaitu 0,39 (hutan), 0,33 (sawah), dan 0,27 (tegalan). Penggunaan
lahan dan jenis tanah berpengaruh nyata terhadap kualitas tanah. Kualitas tanah
pada penggunaan lahan hutan secara nyata lebih baik dibandingkan dengan sawah
dan tegalan. Faktor penentu yang mempengaruhi kualitas tanah adalah Bobot
Volume, Bobot Jenis, N Total, K Tersedia, C Organik, dan C Mikroba. Rekomendasi
perbaikan kualitas tanah yaitu pemberian bahan organik seperti kompos, pupuk kandang,
pupuk kalium, biochar, serta biofertilizer. Strategi pengelolaan tanah untuk
meningkatkan kualitas tanah dengan penerapan teknik olah tanah minimum yang
dikombinasikan dengan penggunaan tanaman penutup tanah (cover crop) terutama
legum.