FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMENGARUHI KECANDUAN SMARTPHONE DAN
DEPRESI PADA REMAJA DI ASRAMA MILITER:
PENDEKATAN PATH ANALYSISAhmad Fadly Lubis, Gst. Ayu Maharatih, Siti WahyuniABSTRAKLatar Belakang: Peningkatan prevalensi penggunaan smartphone pada remaja dikaitkan
dengan risiko gangguan kesehatan mental, khususnya dalam konteks lingkungan
asrama berstruktur disiplin tinggi.
Kecanduan smartphone, stres psikologis, dan kualitas tidur
yang buruk dihipotesiskan sebagai
faktor yang berkontribusi terhadap
gejala depresi. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis hubungan struktural antara faktor-faktor
tersebut pada remaja asrama militer melalui pendekatan path analysis berbasis structural equation modeling (SEM).Metode: Studi observasional dengan desain cross-sectional dilaksanakan pada 303 remaja yang tinggal di asrama militer.
Variabel yang diukur meliputi tingkat stres (Perceived Stress Scale/PSS-10), kualitas tidur (Pittsburgh Sleep Quality Index/PSQI),
kecanduan smartphone (Smartphone
Addiction Scale–Short Version/SAS-SV), dan gejala depresi (Patient Health Questionnaire-9 Adolescent/PHQ-9A).
Analisis dilakukan menggunakan SEM dengan pendekatan path analysis (estimasi MLMV; koefisien terstandarisasi) untuk
menguji efek langsung dan tidak langsung antarvariabel. Kekuatan koefisien
jalur diinterpretasikan berdasarkan konvensi Cohen (1988), dan ukuran efek
model dilaporkan menggunakan f² Cohen.Hasil: Model path analysis menunjukkan
bahwa stres yang dipersepsikan berhubungan signifikan dengan depresi (β =
0,443; p = 0,001), demikian pula
kualitas tidur yang buruk (β = 0,238; p < 0,001). Kecanduan smartphone tidak
menunjukkan hubungan langsung yang signifikan dengan depresi (β = −0,236;
p = 0,392). Stres berperan
sebagai faktor hulu yang berhubungan signifikan dengan
kualitas tidur (β = 0,232; p < 0,001) dan kecanduan smartphone (β = 0,443;
p < 0,001). Durasi penggunaan smartphone menunjukkan efek tidak
langsung yang bermakna terhadap depresi melalui jalur stres (durasi 3–6
jam/hari: β tidak langsung = 0,267;
p = 0,028; durasi >6 jam/hari: β tidak langsung = 0,251; p = 0,005).
Kecocokan model dinilai baik (CFI = 1,000; RMSEA = 0,000; SRMR = 0,005), dengan
koefisien determinasi model (CD) = 0,634. Model menjelaskan 51,4% variasi gejala
depresi (R² = 0,514), dengan ukuran efek keseluruhan yang tergolong besar berdasarkan f² Cohen (f² = 1,057).Kesimpulan: Gejala depresi pada remaja asrama militer secara predominan dikaitkan
dengan stres psikologis dan kualitas
tidur yang buruk,
dengan stres berperan
sebagai faktor hulu yang
mendorong jalur mediasi menuju luaran psikologis. Dalam model final, kecanduan smartphone lebih konsisten berperan
sebagai luaran stres dibandingkan sebagai prediktor langsung depresi.
Kata Kunci: kecanduan smartphone, depresi, stres, kualitas
tidur, remaja, path analysis