Perempuan dengan
peran ganda menghadapi ketegangan yang persisten antara identitas profesional
dan domestik. Ketegangan ini kerap memunculkan konflik peran yang berdampak
pada cara perempuan berkomunikasi dan menampilkan dirinya di dua ruang yang
berbeda, namun penelitian yang secara eksplisit menempatkan komunikasi
interpersonal sebagai arena utama negosiasi identitas di institusi pelayanan
publik Indonesia masih sangat terbatas. Penelitian ini menganalisis bentuk dan
makna komunikasi interpersonal, strategi negosiasi identitas, serta tantangan
komunikasi yang dialami pegawai perempuan berkeluarga di BPJS Ketenagakerjaan
Surakarta. Studi kasus kualitatif dilakukan terhadap enam pegawai perempuan
yang dipilih secara purposif dengan kriteria berstatus menikah, memiliki anak,
dan telah menjalani peran ganda minimal dua tahun. Data dikumpulkan melalui
wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, kemudian
dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Kerangka teoritis
mengintegrasikan Integrative Identity Negotiation Theory Ting-Toomey dan
Dorjee (2019), kerangka komunikasi interpersonal DeVito (dalam Liliweri, 2017),
teori komunikasi verbal-nonverbal Kadri (2022), teori konflik peran Greenhaus
dan Beutell (1985), konseptualisasi peran ganda Tanjung et al. (2024), serta interaksionisme
simbolik Muhid dan Wahyudi (2020). Temuan menunjukkan seluruh informan secara
konsisten membedakan komunikasi verbal dan nonverbal lintas konteks, dengan
nada suara sebagai elemen paling sulit dikendalikan dan diam sebagai sinyal
utama kelelahan emosional. Tiga strategi negosiasi identitas dominan
teridentifikasi, yaitu pemisahan konteks secara sadar, fleksibilitas
situasional berbasis prioritas, dan komunikasi asertif tentang batas kemampuan,
dengan ruang transisi yang berfungsi sebagai buffer identitas. Identitas
paling autentik hanya muncul dalam relasi dengan suami. Tiga tantangan
komunikasi yang saling memperparah ditemukan, yaitu berbasis waktu, tekanan
emosional, dan perilaku, diperparah oleh kerentanan struktural pada sistem
dukungan domestik. Temuan ini memperkaya kajian komunikasi interpersonal dan
gender di Indonesia sekaligus menawarkan implikasi praktis bagi kebijakan
institusional yang responsif terhadap perempuan pekerja dengan peran ganda.