Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan permintaan pasar tinggi. Namun, produktivitas cabai rawit masih menghadapi berbagai kendala, terutama serangan hama dan penyakit yang dapat menurunkan hasil panen. Salah satu upaya pengendalian yang ramah lingkungan adalah penggunaan agen hayati Trichoderma yang berperan sebagai pengendali patogen sekaligus meningkatkan kesuburan tanah dan pertumbuhan tanaman. Kegiatan tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil budidaya cabai rawit dengan aplikasi Trichoderma, mengetahui proses pemasaran hasil panen, dan menganalisis kelayakan usahatani. Kegiatan dilaksanakan di Dusun Tengkek, Desa Pondok, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah pada bulan Februari–Juni 2026. Metode yang digunakan meliputi pengamatan lingkungan, praktik budidaya secara langsung, pemasaran hasil panen, dan analisis usahatani. Budidaya dilakukan menggunakan 200 polybag dengan tahapan persiapan media tanam, penyemaian, penanaman, pemeliharaan, panen, dan pascapanen. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah buah, dan berat buah. Hasil menunjukkan bahwa aplikasi Trichoderma mampu mendukung pertumbuhan tanaman cabai rawit. Selama budidaya, kondisi lingkungan seperti intensitas cahaya, suhu, kadar CO₂, dan kelembaban udara umumnya berada pada kisaran yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata tinggi tanaman mencapai 99,6 cm, jumlah daun 379,9 helai, jumlah buah 9,8 buah per tanaman, dan berat buah 15 gram per tanaman pada pengamatan terakhir. Penanganan pascapanen dilakukan melalui kegiatan sortasi, pengemasan, dan pemasaran secara langsung kepada konsumen dengan menerapkan strategi STP (Segmentation, Targeting, Positioning) dan bauran pemasaran 4P (Product, Price, Place, Promotion). Analisis usahatani dilakukan melalui perhitungan biaya produksi, harga pokok produksi, harga jual produk, penerimaan, pendapatan, R/C Ratio, B/C Ratio, dan Break Even Point (BEP). Berdasarkan asumsi budidaya selama satu tahun dengan 20 kali panen, budidaya cabai rawit dengan aplikasi Trichoderma berpotensi memberikan keuntungan apabila tanaman dipelihara hingga akhir masa produktif dan dilakukan pemanenan secara berkelanjutan.