Biofilm
yang dibentuk oleh Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus
aureus merupakan salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap
peningkatan resistensi bakteri terhadap terapi antimikroba. Daun tanaman Moringa
oleifera L., diketahui mengandung senyawa flavonoid yang berpotensi
sebagai agen antibiofilm alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi
aktivitas antibiofilm ekstrak etanol 70% daun kelor terhadap P. aeruginosa
dan S. aureus, serta menentukan kadar kuersetin sebagai senyawa
penanda menggunakan metode KLT-densitometri.Ekstrak
daun M. oleifera L. diperoleh menggunakan metode Ultrasound-Assisted
Extraction (UAE) dalam pelarut etanol 70%. Aktivitas antibiofilm dievaluasi
menggunakan metode microtiter plate assay dengan pewarnaan kristal violet
berdasarkan waktu optimum pembentukan biofilm yang ditetapkan pada 72 jam. Uji
penghambatan pembentukan biofilm dilakukan pada konsentrasi 0,133; 0,200;
0,267; dan 0,333 mg/mL, sedangkan uji degradasi biofilm dilakukan pada
konsentrasi 0,4; 0,6; 0,8; dan 1 mg/mL. Data aktivitas antibiofilm dianalisis menggunakan
uji One-Way ANOVA pada taraf kepercayaan 95%. Penetapan kadar kuersetin
dilakukan menggunakan KLT-densitometri.
Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun M. oleifera L.
memiliki aktivitas antibiofilm terhadap P. aeruginosa dan S.
aureus. Persentase penghambatan biofilm tertinggi diperoleh pada
konsentrasi 0,333 mg/mL, yaitu sebesar 28,05% terhadap P. aeruginosa
dan 33,19% terhadap S. aureus. Pada uji degradasi biofilm, persentase
degradasi tertinggi diperoleh pada konsentrasi 1 mg/mL, yaitu sebesar 20,01%
terhadap P. aeruginosa dan 27,15% terhadap S. aureus.
Peningkatan konsentrasi ekstrak berpengaruh signifikan terhadap aktivitas
antibiofilm (p<0,05). Analisis
KLT menunjukkan bahwa nilai faktor retensi (Rf) ekstrak sebesar 0,58
sesuai dengan nilai Rf standar kuersetin. Analisis KLT-densitometri
menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% daun M. oleifera mengandung
kuersetin dengan kadar rata-rata sebesar 1,68 ± 0,76%.