Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas
pangan utama di Indonesia karena beras menjadi sumber karbohidrat pokok.
Ketersediaan beras berkaitan dengan ketahanan pangan nasional, sehingga
produktivitas padi perlu terus ditingkatkan seiring bertambahnya jumlah
penduduk. Upaya peningkatan produktivitas padi masih banyak dilakukan dengan sistem
budidaya konvensional yang menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Sebagai
alternatif, budidaya organik menjadi salah satu pendekatan pertanian
berkelanjutan yang lebih ramah lingkungan. Salah satu hama penting tanaman padi
yaitu hama putih palsu (Cnaphalocrocis medinalis), terutama pada stadia
larva. Diperlukan alternatif pengendalian akibat meningkatnya serangan hama
putih palsu dan risiko penggunaan pestisida kimia secara berlebihan. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh praktik budidaya padi organik dan
konvensional terhadap pertumbuhan, hasil, dan serangan hama putih palsu.Penelitian ini berlokasi di lahan pertanian padi Desa
Gatak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah pada bulan September
2025 – Januari 2026. Penelitian ini menggunakan metode survei untuk
membandingkan budidaya padi organik dan budidaya padi konvensional. Pengamatan
dilakukan setiap satu kali dalam seminggu dengan variabel pengamatan meliputi
kondisi lingkungan, pertumbuhan, fisiologis, hasil, populasi hama putih palsu
dan intensitas serangan hama putih palsu. Pada variabel pengamatan pertumbuhan,
fisiologis, dan hasil masing-masing praktik budidaya diamati 30 rumpun padi
yang diambil secara acak setiap minggunya. Pengamatan hama diambil 30 rumpun
padi dengan pengambilan sampel secara acak menggunakan metode diagonal (pola X).
Berdasarkan hasil penelitian, praktik budidaya padi
konvensional menghasilkan pertumbuhan vegetatif lebih tinggi dibandingkan
budidaya organik pada tinggi tanaman 79 cm dan 65 cm, jumlah daun 117 dan 85
helai, ILD 6,72 dan 5,02, anakan total 25 dan 19 anakan, anakan produktif 18
dan 14 anakan, kehijauan daun 32 SPAD dan 28 SPAD, laju fotosintesis 0,5 CO₂ m⁻²
s⁻¹ dan 0,25 CO₂ m⁻² s⁻¹, berat brangkasan segar 153 dan 91 g, serta berat
brangkasan kering oven 32 dan 23 g. Meskipun demikian, budidaya padi organik
mampu menghasilkan komponen hasil yang sama dengan budidaya konvensional pada produktivitas
masing-masing 6,03 ton/ha dan 6 ton/ha. Jumlah gabah permalai dan per rumpun, bobot
GKP per malai dan per rumpun, bobot GKG per malai dan per rumpun, bobot 1000
biji, persentase gabah bernas dan hampa menunjukkan hasil yang sama. Rata-rata
populasi larva, pupa, imago, dan intensitas serangan hama putih palsu pada
kedua praktik budidaya juga sama, sedangkan musuh alami Araneus sp. dan Oxyopes
sp. lebih banyak ditemukan pada budidaya organik mencapai 1,2 dan 2,2
ekor/rumpun, pada budidaya konvensional 0,5 dan 1,1 ekor/rumpun.