Bakso
ikan Patin merupakan salah satu bentuk diversifikasi produk perikanan yang
dapat dikembangkan melalui penggunaan bahan pengisi pangan lokal. Penelitian
ini bertujuan mengevaluasi penerimaan sensoris bakso ikan patin pada beberapa
tingkat substitusi tepung tapioka dengan tepung talas, menentukan formula
terpilih, menganalisis karakteristik kimianya, serta menilai kelayakan
usahanya. Empat formula yang diuji adalah F0 (100% tepung tapioka : 0% tepung
talas), F1 (75% tepung tapioka : 25% tepung talas), F2 (50% tepung tapioka :
50% tepung talas), dan F3 (25% tepung tapioka : 75% tepung talas). Uji hedonik
dilakukan oleh 30 panelis tidak terlatih menggunakan skala lima level kesukaan
pada atribut warna, aroma, rasa, tekstur, dan kesukaan keseluruhan. Data
dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney
pada taraf signifikansi 5%. Formula F1 terpilih karena memperoleh nilai
kesukaan tertinggi pada warna (3,96±0,76), aroma (3,30±0,98), rasa (4,06±0,78),
tekstur (4,10±0,88) dan kesukaan keseluruhan (4,20±0,66). Analisis
karakteristik kimia pada formula terpilih menghasilkan kadar air sebesar
67,22±0,02%, kadar abu 1,24±0,09%, kadar lemak 10,56±0,36%, kadar protein
6,83±0,12%, kadar karbohidrat 14,13±0,36%, serta kadar serat pangan sebesar
3,76±0,15%. Berdasarkan hasil analisis kelayakan usaha, produksi bakso ikan
patin dengan substitusi tepung tapioka dan tepung talas dinilai layak untuk
dikembangkan. Hal ini ditunjukkan oleh nilai B/C Ratio sebesar 1,38, nilai NPV
pada tingkat diskonto 8,49% sebesar Rp342.434.743,18, serta nilai IRR sebesar 139%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung talas sebesar 25%
menghasilkan formula bakso ikan patin yang memiliki tingkat penerimaan sensoris
bakso ikan patin yang memiliki tingkat penerimaan sensoris yang dianalisis,
serta layak dikembangkan berdasarkan analisis kelayakan usaha.