Taman Bungkul Surabaya
dikenal sebagai taman kota unggulan yang aktif digunakan warga untuk berkumpul
dan beraktivitas, tetapi di lapangan masih banyak persoalan yang belum terselesaikan,
misalnya guiding block yang terputus di beberapa titik dan ram dengan
kemiringan yang terlalu curam bagi pengguna kursi roda. Kondisi tersebut
membuat penyandang disabilitas fisik kesulitan bergerak mandiri di taman ini.
Penelitian ini disusun untuk mengetahui sejauh mana elemen fisik Taman Bungkul
sudah sesuai dengan prinsip ruang publik inklusif bagi penyandang disabilitas
fisik. Penilaian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif deskriptif melalui dua
cara, yaitu observasi langsung terhadap 11 elemen fisik taman dan penyebaran
kuesioner kepada 43 responden penyandang disabilitas fisik yang dipilih dengan
teknik purposive sampling. Hasil dari kedua data tersebut kemudian diskoring
dan dibandingkan dengan Peraturan Menteri PUPR Nomor 14 Tahun 2017. Dari hasil
penilaian, Taman Bungkul memperoleh skor 29 dari total 33 atau setara 87,87%,
dan masuk kategori Sangat Sesuai. Skor tertinggi diperoleh dari variabel fungsi
taman yang mencapai 100%, sementara variabel aksesibilitas elemen fisik menjadi
yang paling rendah dengan 80%, terutama karena guiding block belum saling
terhubung dan toilet disabilitas belum memiliki sistem darurat. Namun, temuan
dari kuesioner memperlihatkan hal yang menarik: standar fisik yang sudah
terpenuhi ternyata tidak selalu sejalan dengan rasa nyaman dan aman yang
dirasakan penyandang disabilitas fisik saat menggunakan taman, karena masih
dipengaruhi kondisi pemeliharaan dan faktor sosial di lapangan. Berdasarkan
temuan ini, perbaikan yang perlu segera dilakukan mencakup penyambungan guiding
block, pelengkapan handrail, dan penambahan sistem darurat pada toilet
disabilitas, agar Taman Bungkul benar-benar dapat menjadi ruang publik yang
inklusif bagi seluruh penggunanya.