Penelitian ini
dilatarbelakangi oleh belum optimalnya pariwisata Museum Manusia Purba Sangiran
yang ditandai dengan jumlah pengunjung yang fluktuatif dan tren menurun
meskipun sudah ada kerja sama antar berbagai stakeholders serta promosi. Museum Manusia Purba Sangiran sebagai
Situs Warisan Budaya Dunia (World
Cultural Heritage) oleh UNESCO dan memiliki nilai penting sebagai destinasi
wisata sejarah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan data
diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi. Validitas data diuji dengan
triangulasi sumber serta analisis data dilakukan menggunakan model Miles,
Huberman, dan Saldaña, meliputi kondensasi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses collaborative governance dalam optimalisasi pariwisata Museum
Manusia Purba Sangiran melalui 5 tahap menurut Ansell & Gash (2008). Pada
tahap face to face dialogue (dialog
tatap muka) berupa adanya rapat bersama dengan negosiasi. Selanjutnya, pada tahap
trust building (membangun kepercayaan)
dengan tidak ada riwayat konflik dan pembagian risiko dan tahap commitment to the process (komitmen
terhadap proses) berupa event bersama
secara terbuka serta ketergantungan. Pada tahap shared understanding (pemahaman bersama) dengan adanya visi, nilai,
serta masalah bersama. Kemudian pada tahap intermediate
outcomes (hasil sementara) berupa adanya keuntungan yang didapatkan. Namun,
pada tahap trust building (membangun
kepercayaan) kurang optimal karena adanya permasalahan lapangan dan pembagian
retribusi tiket museum sehingga jumlah pengunjung Museum Manusia Purba Sangiran
belum meningkat.