Lahan
kering yang ketersediaan airnya rendah namun bila dikelola dengan baik lahan
ini menjadi tantangan untuk meningkatkan produksi tanaman pangan dikarenakan
adanya alih fungsi lahan pertanian yang subur. Penelitian dilakukan dengan
percobaan di lahan kering antara tegakan kayu putih dalam upaya meningkatkan
produktivitas tanaman pangan. Percobaan penggunaan biochar sekam padi, pupuk
urea dan kandang bertujuan untuk menjaga ketersediaan air dan nutrisi.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok lengkap tiga faktor (RAKL).
Faktor pertama adalah tanpa biochar dan biochar sekam padi, faktor kedua adalah
nisbah dosis pupuk urea dan kandang (150:0, 75:10, 0:20 kgha-1:tonha-1),
dan faktor ketiga adalah pola tanam monokultur jagung, tumpang sari jagung +
kacang hijau, dan monokultur kacang hijau. Analisis dilakukan uji ANOVA, DMRT,
dan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan khlorofil a jagung dengan biochar sekam padi serta
nisbah dosis pupuk urea dan kandang (75 kgha-1 : 10 tonha-1)
pada pola tanam monokultur (0,26 mgg-1) lebih tinggi daripada tanpa
biochar dengan nisbah dosis pupuk urea dan kandang (75 kgha-1 : 10
tonha-1) pada pola tanam tumpang sari (0,15 mgg-1). Jumlah stomata jagung dengan biochar sekam padi serta nisbah
dosis pupuk urea dan kandang (75 kgha-1 : 10 tonha-1)
pada pola tanam monokultur (99,06 unitmm-2) lebih tinggi daripada
tanpa biochar dengan nisbah dosis pupuk urea dan kandang (150 kgha-1
: 0 tonha-1) pada pola tanam tumpang sari (47,98 unitmm-2). Lebar bukaan stomata jagung sebesar (6,78 μm) pada
monokultur lebih besar daripada tumpang sari (6,12 μm). Khlorofil total kacang hijau pada nisbah dosis pupuk
urea dan kandang (75 kgha-1 : 10 tonha-1) pada pola tanam
monokultur (0,36 mgg-1) lebih tinggi daripada nisbah dosis pupuk
urea dan kandang (0 kgha-1 : 20 tonha-1) pada pola tanam
tumpang sari (0,27 mgg-1).