Latar Belakang: Mahasiswa kedokteran tahun pertama
sering berhadapan dengan masa transisi akademik dari masa sekolah menuju masa
perkuliahan yang dapat memicu kecemasan dan berdampak pada kesehatan mental
serta performa akademik. Resiliensi, sebagai kemampuan individu untuk bangkit
dan pulih dari permasalahan yang dihadapi, diduga berperan penting dalam
mengurangi tingkat kecemasan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
hubungan antara tingkat resiliensi dan kecemasan pada mahasiswa kedokteran
tahun pertama.Metode: Penelitian ini menggunakan desain
observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian
berjumlah 144 mahasiswa kedokteran tahun pertama. Resiliensi diukur menggunakan
Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC), sedangkan tingkat kecemasan
diukur menggunakan Zung Self Rating Anxiety Scale (ZRAS). Analisis data
dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson.Hasil: Hasil penelitian ini
menunjukkan mahasiswa kedokteran tahun pertama mengalami kecemasan ringan
sebesar 74,31%, kecemasan sedang sebesar 24,31%, dan kecemasan berat sebesar
1,39%. Sementara itu, resiliensi mahasiswa kedokteran tahun pertama sebesar
37,5% untuk resiliensi sedang dan 62,5% untuk resiliensi tinggi. Hasil analisis
menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara resiliensi dan
tingkat kecemasan pada mahasiswa kedokteran tahun pertama (r = -0,534; p <
0 xss=removed xss=removed>
Kesimpulan: Terdapat
hubungan signifikan antara resiliensi dan tingkat kecemasan pada mahasiswa
kedokteran tahun pertama. Peningkatan resiliensi dapat menjadi strategi penting
dalam mengurangi kecemasan dan mendukung kesehatan mental mahasiswa. Program
pengembangan resiliensi perlu dipertimbangkan dalam lingkungan pendidikan
kedokteran.