Buah durian
dikenal sebagai "Raja Buah" dan populer di berbagai kalangan
masyarakat. Daya tarik buah durian terletak
pada rasa dan aromanya yang khas. Salah satu durian lokal yang berpotensi menjadi varietas unggulan karena karakteristik khasnya
adalah durian Criwik. Durian Criwik merupakan durian lokal yang berasal dari
Rembang, Jawa Tengah, dan memiliki ciri morfologis seperti ukuran yang lebih
kecil, rasa manis lembut, dan aroma yang tidak terlalu menyengat. Meskipun
memiliki potensi besar, pengembangannya masih menghadapi beberapa kendala,
seperti teknik budidaya yang masih konvensional menggunakan biji, sehingga menyebabkan
keragaman genetik yang tinggi antar pohon.
Minimnya penelitian mengenai keragaman genetik durian Criwik dan kandungan
fitokimianya turut menjadi hambatan dalam upaya pemuliaan dan pemanfaatannya di
bidang kesehatan. Disamping itu, keberadaan varietas lokal seperti durian
Criwik juga rentan terhadap hilangnya keragaman genetik apabila tidak
didokumentasikan dan dilestarikan secara sistematis. Penelitian ini menjadi
penting untuk menghasilkan database durian Criwik yang komprehensif,
baik dari segi morfologi, genetik, maupun fitokimia.Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi
keragaman karakter morfologi durian Criwik di wilayah Rembang, (2) Menganalisis
keragaman genetik durian Criwik pada di wilayah Rembang berdasarkan analisis
molekuler menggunakan penanda Random Amplified Polymorfik DNA (RAPD),
(3) Mengidentifikasi ragam kandungan bahan aktif melalui analisis fitokimia dan
GC-MS pada ekstrak daun durian Criwik di wilayah Rembang. Kajian keragaman
diawali dengan analisis morfologi yang mencakup pengamatan terhadap batang,
daun, dan buah durian Criwik. Setelah itu, keragaman genetik dikonfirmasi
melalui analisis sampel daun menggunakan penanda Random Amplified
Polymorphic DNA (RAPD). Selain itu, kajian kandungan fitokimia dilakukan
menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Informasi yang
lebih komprehensif ini akan mendukung pengembangan durian Criwik sebagai
varietas unggulan yang bernilai tinggi dalam sektor pertanian, ekonomi, dan
kesehatan. Penelitian ini mencakup tiga kajian, dimulai dengan analisis
keragaman morfologi. Kajian ini dilakukan di Desa Trenggulunan dan Desa Criwik,
Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada Februari 2024 hingga
Januari 2025. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif dengan metode
survei lapangan untuk mengidentifikasi morfologi 30 pohon dan buah durian lokal
berdasarkan Descriptors for Durian (Bioversity 2007). Sampel dipilih
menggunakan metode purposive random sampling dan snowball sampling.
Selanjutnya, data hasil pengamatan dikonversi ke dalam bentuk skor, dianalisis
untuk menyusun dendrogram, lalu disajikan secara deskriptif. Hasil kajian
keragaman morfologi menunjukkan adanya keragaman vegetatif dengan koefisien
kemiripan 60–93%. Secara umum, semua pohon berumur di atas 10 tahun dengan tiga
bentuk tajuk dan percabangan yang menyebar. Selain itu, batang dan daun
menunjukkan keragaman dalam bentuk, warna, dan tekstur. Sementara itu, bunga
memiliki dua bentuk kuncup, yaitu globose dan ovoid, serta menunjukkan keragaman
warna. Namun, dari 30 aksesi yang diamati, hanya 4 pohon yang berbuah,
kemungkinan akibat curah hujan yang tinggi. Buah yang dihasilkan memiliki
bentuk globose atau elliptic dengan bobot berkisar antara 467–2473 g, serta
rasa yang sedikit manis dengan aroma sedang.Kajian kedua berfokus pada analisis keragaman genetik durian
Criwik menggunakan penanda RAPD sebagai tindak lanjut hasil analisis keragaman
morfologi. Analisis molekuler dilakukan pada Februari–Maret 2024 dengan
pengambilan sampel daun durian dari Desa Trenggulunan dan Criwik. Selanjutnya,
analisis genetik dilakukan di Laboratorium Genetika dan Pemuliaan Tanaman,
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Amplifikasi DNA terhadap 30 aksesi durian
Criwik dengan tiga primer RAPD (OPA-02, OPA-04, dan OPA-13) menghasilkan 41
pita polimorfik dengan tingkat polimorfisme 100%, mencerminkan keberagaman
genetik yang tinggi. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat polimorfisme
pada durian Sukun dan durian asal Jepara lebih rendah. Pola pita yang
dihasilkan juga mengonfirmasi efektivitas RAPD dalam membedakan aksesi. Selain
itu, primer OPA-13 memberikan amplifikasi paling optimal dengan pita yang lebih
tebal dan jernih. Hasil analisis dendrogram membagi aksesi ke dalam empat
kelompok pada tingkat kemiripan 25%. Kelompok terbesar terdiri dari 25 aksesi,
sedangkan aksesi Tr8 dan Tr11 memiliki kemiripan tertinggi dengan koefisien
89%.
Kajian ketiga berfokus pada analisis fitokimia daun durian
Criwik. Pengambilan sampel daun dilakukan pada Februari 2024. Selanjutnya,
analisis fitokimia dan GC-MS dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan
Pengujian Terpadu, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, pada Mei 2024. Analisis
fitokimia menggunakan beberapa reagen kimia seperti Dragendorff, ferri
chloride, dan reagen anisaldehida asam sulfat. Hasil analisis fitokimia
menunjukkan keberadaan flavonoid, tanin, alkaloid, saponin, dan fenolik, yang
memiliki berbagai manfaat biologis, termasuk sebagai antioksidan, antibakteri,
dan antiinflamasi. Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya pada durian Lai,
studi ini menemukan tambahan kandungan tanin, yang mengindikasikan adanya keragaman
kimia antar varietas. Sementara itu, analisis GC-MS mengidentifikasi 11 senyawa
utama, di antaranya squalene (26%), etil iso-allocholate (18%), neophytadiene
(13%), dan phytol (11%). Jika dibandingkan dengan Durio kutejensis, yang
mengandung 43 senyawa berbeda, hasil ini semakin menegaskan adanya keragaman
kimia antar spesies.