Sampah plastik masih menjadi permasalahan lingkungan dunia yang mendesak, termasuk di Indonesia. UNEP menyatakan jumlah polusi plastik akan meningkat pada tahun 2040 menjadi 23-37 juta ton. Cara produktif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengubah limbah plastik menjadi material daur ulang. Nilai jual akan meningkat apabila inovasi dilakukan untuk mengeksplorasi visual material. Penelitian ini berfokus pada limbah plastik HDPE yang memiliki ketahanan yang tinggi terhadap korosi dan tingkat kontaminasi yang rendah dari bahan kimia. Permasalahan yang diangkat adalah apa saja varian komposisi visual yang dapat dimunculkan dari pengolahan limbah HDPE menjadi material baru dan bagaimana respon user terhadap eksplorasi material dari aspek sensorial dan aspek interpretatif. Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan komposisi visual baru material limbah HDPE daur ulang, mengidentifikasi karakter material dari aspek sensorial dan interpretatif, dan mengaplikasikan material pada desain produk interior. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Materials Driven Design yang dikembangkan oleh Karana (2009). Tahapan dalam metode MDD, pertama mengenali karakteristik material yang dilakukan dengan observasi lapangan, kedua membuat visi dan mengeksplorasi komposisi visual material HDPE, ketiga melakukan Focus Group Discussion untuk mengetahui pengalaman material user dilanjutkan dengan penilaian aspek sensorial dan interpretatifnya, serta keempat mendesain produk/elemen interior menggunakan material terpilih. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah setiap sampel material memiliki karakteristik sensorial yang kurang lebih sama. Perbedaannya ada pada tingkat transparansinya. Pada aspek interpretatif, perbedaan yang terlihat dari setiap material adalah tingkat kesan natural-buatan, kesan maskulin-feminim, dan kesan ketenangannya. Berdasarkan evaluasi, 80% responden menjawab produk yang dihasilkan sesuai dengan selera dan bayangan mereka.