mbangi peningkatan produksi dan pengembangan tanaman kentang. Pengembangan budidaya kentang memerlukan dukungan kondisi iklim dan sifat tanah yang sesuai, terutama dalam hal iklim mikro dan retensi hara tanah. Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, merupakan daerah dataran tinggi yang secara teoritis memenuhi syarat tumbuh kentang, namun belum dimanfaatkan secara optimal untuk budidaya komoditas ini. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau kondisi iklim mikro dan retensi hara tanah di Kecamatan Tawangmangu serta memberikan rekomendasi strategi pengembangan kentang. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tawangmangu pada bulan Oktober 2024 hingga Januari 2025, dengan analisis laboratorium dilakukan hingga Februari 2025 di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan survei dan analisis laboratorium. Sampel diambil dari 12 satuan peta lahan (SPL) dengan total 36 titik menggunakan metode purposive random sampling pada kedalaman 0–30 cm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tawangmangu memiliki curah hujan yang sesuai dengan syarat tumbuh kentang. Secara umum, curah hujan cenderung meningkat pada ketinggian yang lebih tinggi, sedangkan temperatur udara menurun, menunjukkan pengaruh topografi terhadap iklim mikro. Pada ketinggian 1500-2000 mdpl temperatur udara kurang sesuai dan kelembapan udara cukup sesuai dengan syarat tumbuh kentang. Suhu tanah berkisar antara 19,9–23,4°C dan kelembapan tanah berada dalam kisaran 37–41%. Dari aspek retensi hara, sebagian besar lokasi memiliki nilai Kapasitas Tukar Kation (KTK), kejenuhan basa, pH H₂O, dan kadar C-Organik dalam kategori sedang hingga tinggi, menunjukkan potensi kesuburan tanah yang cukup baik. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel iklim dan retensi hara. Berdasarkan hasil matching, 33,3% wilayah penelitian memiliki tingkat kesesuaian iklim mikro dan retensi hara yang kurang sesuai untuk pengembangan tanaman kentang, sedangkan 66,7% wilayah penelitian tidak sesuai. Kesimpulannya, Kecamatan Tawangmangu tidak berpotensi untuk dikembangkan sebagai wilayah budidaya kentang karena terdapat faktor pembatas yang berat. Rekomendasi yang diberikan adalah penerapan strategi pengelolaan lahan dan iklim mikro secara berkelanjutan seperti penggunaan mulsa, perbaikan irigasi, serta menggunakan varietas kentang yang adaptif terhadap kondisi di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah untuk meningkatkan produktivitas.