Pemindahan ibu kota negara ke Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan
Timur menghadirkan tantangan kompleks dalam upaya place branding dan
komunikasi publik di era digital. Penelitian ini menyoroti persoalan utama
mengenai bagaimana membangun narasi place branding IKN yang efektif di
tengah fragmentasi opini publik, perdebatan isu lingkungan, beban fiskal, serta
pertanyaan tentang inklusivitas sosial di media sosial. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan struktur jaringan komunikasi dan pola relasi antar
aktor kunci dalam pembentukan narasi place branding IKN di Twitter,
serta menganalisis konstruksi wacana terhadap narasi yang diusung pemerintah.
Menggunakan pendekatan mixed-methods, penelitian ini mengintegrasikan Social
Network Analysis (SNA) dan Social Media Critical Discourse Studies
(SM-CDS) terhadap lebih dari 60.000 tweet pada tahun 2023–2024. Hasil SNA
menunjukkan struktur komunikasi yang terdesentralisasi di Twitter dengan tiga
klaster utama, yaitu klaster pro-pemerintah (didominasi @ikn_id, @jokowi, dan
media nasional (@detikcom, @CNNIndonesia, @Metro_TV)), klaster kritikus
(aktivis lingkungan, akademisi, masyarakat sipil) @greenpeaceid, @msaid_didu,
@concave, dan klaster media netral (@kumparan, @Kompascom). Pemerintah secara
aktif membingkai IKN sebagai kota inklusif, modern, dan berkelas dunia, namun
upaya tersebut diiringi oleh narasi tandingan dari kelompok kritikus dan
masyarakat sipil yang menyoroti risiko ekologi, transparansi fiskal, serta isu
partisipasi dan keadilan sosial. Analisis wacana kritis menunjukkan bahwa
interaksi antara wacana dominan dan tandingan membentuk dialog publik yang
dinamis dan kontestatif, yang terus mempengaruhi legitimasi dan persepsi IKN. Temuan
penelitian ini juga mengidentifikasi bagaimana strategi place branding
pemerintah di era digital masih menghadapi tantangan dalam penerapan model 7C.
Dimensi communication didominasi komunikasi top-down yang
cenderung monologis, sehingga kurang efektif membangun trust di kalangan
publik skeptis. Partisipasi masyarakat dalam aspek co-creation masih
minim, memperkuat persepsi eksklusivitas. Keterlibatan komunitas lokal dalam
membentuk community digital juga belum optimal, menyebabkan narasi
pemerintah mudah dikritik dan kurang inklusif. Selain itu, kolaborasi (co-branding)
dengan aktor eksternal belum sepenuhnya mengoptimalkan nilai keaslian dan
shared value. Oleh karena itu, keberhasilan narasi branding IKN sangat
bergantung pada responsivitas dan adaptasi aktor utama, kolaborasi lintas
aktor, serta pemantauan berkelanjutan terhadap wacana digital agar strategi
komunikasi dapat diterima secara luas dan memperoleh legitimasi di era digital.