Latar Belakang: Proses
crushing dan milling di sektor industri kimia merupakan sumber utama intensitas
kebisingan yang berasal dari pengoperasian peralatan dan mesin selama 24 jam.
Intensitas kebisingan yang melampaui Nilai Ambang Batas (NAB) dalam jangka
panjang berpotensi memicu gangguan fisiologis berupa peningkatan tekanan darah,
serta menurunkan kapasitas fisik dan konsentrasi pekerja yang berkontribusi
pada kelelahan kerja. Hasil survei awal di PT X menunjukkan rata-rata
intensitas kebisingan mencapai 92,3 dB, pada pengukuran tekanan darah pada 30
pekerja menunjukkan 63% pekerja mengalami hipertensi, 23% pekerja mengalami
pre-hipertensi dan 13% pekerja dengan tekanan darah normal. Hasil pengukuran
kelelahan menunjukkan 30% pekerja mengalami kelelahan berat, 43% pekerja
mengalami kelelahan sedang dan 26% pekerja mengalami kelelahan ringan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara intensitas
kebisingan dengan tekanan darah dan tingkat kelelahan pada pekerja bagian
produksi PT X.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional
analitik dengan desain cross sectional. Jumlah responden terdiri dari 116
pekerja bagian produksi dengan menggunakan teknik total sampling. Instrumen
pada penelitian ini menggunakan Sound Level Meter (SLM) untuk mengukur
kebisingan, tensimeter digital untuk mengukur tekanan darah dan kuesioner
Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) untuk mengukur kelelahan kerja.
Teknik analisis data menggunakan uji Rank Spearman dan uji Regresi Logistik
Ordinal.Hasil:
Hasil
menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara intensitas kebisingan
dengan tekanan darah sistolik (p=0,001, r=0,616), dengan tekanan darah
diastolik (p=0,001, r=0,475) dan kelelahan kerja (p=0,004, r=0,268). Hasil
menunjukkan terdapat hubungan antara intensitas kebisingan dengan tekanan darah
p<0>
Simpulan:
Intensitas
kebisingan dapat meningkatkan tekanan darah dan kelelahan kerja pada pekerja bagian produksi PT X.