Turunnya kualitas pendidikan di Indonesia dalam kurun waktu beberapa tahun belakang melalui hasil PISA 2022 memunculkan upaya pemerintah untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan menyusun kurikulum baru yang lebih fleksibel, efektif, dan mendalam yang dikenal dengan Kurikulum Merdeka Belajar. Akan tetapi, terbitnya kurikulum tersebut memunculkan tantangan bagi guru sekolah dasar, khususnya guru lama. Penelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran peran guru memaksimalkan proses belajar mengajar dan menghadapi tantangan Kurikulum Merdeka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi literatur. Data penelitian dianalisis menggunakan analisis model Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 7 peran yang guru lakukan guna memaksimalkan proses belajar dalam ekosistem pendidikan. Dimulai dari proses adaptasi yakni keikutsertaan guru dalam sosialisasi dan pelatihan yang meskipun penerapannya belum merata terutama pada guru lama sehingga menimbulkan perbedaan pemahaman kurikulum, namun diatasi melalui pelatihan internal dan akses mandiri lewat Platform Merdeka Mengajar. Fungsi pencapaian tujuan tercermin dari upaya pembelajaran berdiferensiasi dan P5, tetapi belum sepenuhnya diadopsi oleh guru lama yang masih cenderung menggunakan metode konvensional dan terbatas dalam pemanfaatan media digital. Lalu ada pula asasmen nasional sebagai bentuk langkah reflektif dan perbaikan yang berkelanjutan. Meskipun pada keberjalananya terdapat tantangan bagi guru lama, namun tetap ada hubungan yang terkoordinasi baik dengan pihak-pihak lain sebagaimana fungsi integrasi. Selain itu, terdapat komunitas belajar guru yang sejalan dengan fungsi pemeliharaan pola dan nilai dasar Kurikulum Merdeka.