Penulis Utama : Eko Prasetyo Nugroho Saputro
NIM / NIP : T202108002

Daya saing bangsa merupakan faktor kunci dalam menentukan posisi suatu negara dalam peta ekonomi global, yang dipengaruhi oleh kualitas pendidikan tinggi, riset, dan inovasi. Laporan Global Innovation Index (GII) dan IMD Global Competitiveness Index tahun 2023 menunjukkan bahwa daya saing dan inovasi Indonesia masih tertinggal dibanding negara ASEAN lainnya. Perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran penting dalam meningkatkan daya saing bangsa melalui hilirisasi hasil penelitian agar hasil penelitian bermanfaat secara optimal bagi masyarakat luas. Namun, saat ini, sebagian besar hasil penelitian masih terjebak dalam publikasi akademik dan belum dioptimalkan untuk pengembangan masyarakat maupun industri. Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, diperlukan komunikasi sains yang efektif agar hasil penelitian dapat dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Komunikasi sains melibatkan penyampaian pengetahuan ilmiah dalam bahasa yang mudah dipahami melalui berbagai media dan strategi. Dalam konteks perguruan tinggi, komunikasi sains menjadi penting untuk mengkomunikasikan hasil riset secara luas, membangun kepercayaan publik, dan memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen perubahan. Keberhasilan komunikasi sains di perguruan tinggi dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya budaya organisasi. Dengan menciptakan ekosistem budaya organisasi yang mendukung, perguruan tinggi dapat meningkatkan komunikasi sains dalam konteks hilirisasi inovasi dan hasil penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik komunikasi sains dan budaya organisasi dalam hilirisasi hasil penelitian di lingkungan perguruan tinggi negeri. Secara rinci tujuan penelitian ini adalah Pertama, menganalisis karakteristik komunikasi sains dalam hilirisasi hasil penelitian di lingkungan perguruan tinggi negeri;  Kedua, menganalisis peran budaya organisasi dalam praktik komunikasi sains di lingkungan perguruan tinggi negeri; Ketiga, merumuskan model komunikasi sains yang terintegrasi dengan budaya organisasi di lingkungan perguruan negeri Indonesia pada proses hilirisasi hasil penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif dan metode studi kasus jamak (multiple case study). Pendekatan ini dipilih untuk menggali secara mendalam fenomena komunikasi sains dan budaya organisasi dalam konteks hilirisasi hasil penelitian di tiga perguruan tinggi Indonesia, yakni Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Ketiga perguruan tinggi dipilih melalui teknik purposive sampling berdasarkan kriteria klasterisasi Mandiri Kemendikbudristek, peringkat tertinggi QS WUR di Indonesia, serta perbedaan budaya organisasi. Informan penelitian ditentukan dengan teknik snowball sampling, mencakup pimpinan Direktorat, dosen, staff di tiga perguruan tinggi tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Wawancara dilakukan kepada informan kunci dengan panduan wawancara untuk memperoleh perspektif mendalam terkait praktik komunikasi sains dan budaya organisasi. Studi dokumentasi digunakan untuk melengkapi data wawancara serta sebagai bagian dari proses triangulasi. Peneliti bertindak sebagai instrumen utama dalam proses pengumpulan dan analisis data. Pengujian keabsahan data dilakukan melalui triangulasi teknik, pemeriksaan ulang sumber data secara sistematis, dan peer reviewer. Analisis data dilakukan dengan teknik pattern matching dan explanation building untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam dan logis mengenai proses komunikasi sains dan budaya organisasi dalam hilirisasi hasil penelitian di UI, UGM, dan ITB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan yang ada antara UI, UGM, dan ITB dalam Profil masing-masing perguruan tinggi terutama pada struktur organisasi dan fokus prioritas mereka berimplikasi pada cara masing-masing universitas berkomunikasi dengan publik dalam konteks hilirisasi hasil penelitian. Setiap karakteristik ini memberi kontribusi yang berbeda dalam bagaimana penelitian diterjemahkan menjadi hasil yang bisa diimplementasikan langsung oleh masyarakat dan industri, dengan komunikasi sains yang beragam pendekatannya sesuai dengan karakteristik masing-masing universitas. Penelitian ini secara umum juga mengungkap dinamika komunikasi sains dalam hilirisasi hasil penelitian di UI, UGM, dan ITB melalui lima elemen komunikasi utama. Sebagai pengirim pesan (sender), peneliti/dosen di ketiga kampus berperan menyampaikan hasil riset, didukung oleh direktorat terkait seperti direktorat riset, science technopark, pengembangan usaha yang menjembatani interaksi dengan industri dan pemerintah. Penerima pesan (receiver) mencakup komunitas akademik, industri, pemerintah, dan masyarakat umum, dengan variasi fokus sesuai karakteristik institusi. Pesan komunikasi sains diformulasikan berdasarkan agenda strategis masing-masing kampus, seperti SDGs, teknologi frontier, dan isu kebangsaan. UI menekankan tema kesehatan, energi, dan transformasi digital; UGM fokus pada ketahanan nasional, pangan, dan alat kesehatan; sedangkan ITB mengusung topik TIK, infrastruktur, dan teknologi pangan berbasis big data. Media komunikasi yang digunakan sangat beragam, mulai dari publikasi ilmiah, media sosial, seminar, hingga event khusus seperti UI Innovation Festival, Research Days UGM, dan CEO Summit ITB, menunjukkan pendekatan multikanal untuk menjangkau audiens luas. Umpan balik (feedback) diperoleh dari berbagai pihak, termasuk pembuat kebijakan, mitra industri, pengguna akhir, dan komunitas ilmiah. Feedback ini menjadi dasar evaluasi dan penyempurnaan riset agar lebih relevan dan aplikatif, sekaligus mempercepat proses hilirisasi teknologi dan inovasi. Sepanjang tahapan hilirisasi hasil penelitian, UI, UGM, dan ITB mulai dengan model yang lebih teknis dan satu arah (Deficit Model), dan seiring berjalannya waktu dan kematangan riset, komunikasi mereka berkembang menjadi lebih interaktif dan kolaboratif (Contextual, Public Engagement). Namun, UI, UGM, dan ITB juga melakukan adaptasi model komunikasi sains yang sangat dinamis, menyesuaikan dengan tahapan hilirisasi riset yang mereka jalani dengan menerapkan multimodel yakni mengombinasikan Deficit Model, Contextual Model, Lay Expertise Model, dan Public Engagement Model secara fleksibel sesuai konteks. Di bidang saintek, komunikasi sains bertransformasi dari model Deficit pada tahap penelitian dasar menuju pendekatan Public Engagement yang lebih interaktif dan kolaboratif seiring peningkatan tahapan hilirisasi. Sebaliknya, komunikasi sains di bidang soshum cenderung bertahan pada model Deficit dengan fokus pada diseminasi akademik seperti publikasi jurnal dan penulisan buku, meskipun mulai menunjukkan kecenderungan interaksi yang lebih luas pada tahap penelitian terapan, terutama dalam kolaborasi lintas bidang dengan saintek. Namun, pendekatan multimodel juga diterapkan pada setiap tahapan hilirisasi bidang saintek maupun soshum secara fleksibel. Temuan ini menegaskan bahwa komunikasi sains bersifat kontekstual, ditentukan oleh karakteristik tujuan dan audiens akhir dari komunikasi sains. Perbedaan budaya organisasi di UI, UGM, dan ITB secara signifikan memengaruhi strategi komunikasi sains yang dikembangkan oleh masing-masing institusi. UI menekankan komunikasi sains yang terstruktur, formal, dan berbasis tata kelola kinerja untuk menjaga kredibilitas dan reputasi global. UGM menonjolkan pendekatan dialogis dan partisipatif yang berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara ITB mengusung budaya inovatif dan teknokratis dengan orientasi pada kompetisi global, kolaborasi industri, serta komersialisasi hasil riset. Berdasarkan analisis lintas kasus, penelitian ini menghasilkan model komunikasi sains terintegrasi yang menggambarkan hubungan dinamis antara elemen komunikator, pesan, komunikan, media, dan umpan balik dalam konteks budaya organisasi. Model ini bersifat multimodel dan progresif, menggabungkan Deficit, Contextual, Lay Expertise, dan Public Engagement Model sesuai dengan tahap hilirisasi penelitian. Dengan demikian, komunikasi sains di perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai saluran diseminasi hasil riset, tetapi juga sebagai mekanisme strategis yang memperkuat budaya akademik, relevansi sosial, dan kontribusi institusi terhadap pembangunan nasional dan global.  

×
Penulis Utama : Eko Prasetyo Nugroho Saputro
Penulis Tambahan : -
NIM / NIP : T202108002
Tahun : 2025
Judul : Komunikasi Sains dan Peran Budaya Organisasi di Perguruan Tinggi Negeri Indonesia Dalam Hilirisasi Hasil Penelitian
Edisi :
Imprint : SURAKARTA - Fak. ISIP - 2025
Program Studi : S-3 Ilmu Komunikasi
Kolasi :
Sumber :
Kata Kunci : Kata kunci: Komunikasi sains, budaya organisasi, hilirisasi, penelitian, perguruan tinggi
Jenis Dokumen : Disertasi
ISSN :
ISBN :
Link DOI / Jurnal : https://journal.uny.ac.id/index.php/cp
Link DOI : https://journal.uny.ac.id/index.php/cp
Status : Public
Pembimbing : 1. Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si
2. Dr. Andre N. Rahmanto, M.Si
3. Sri Hastjarjo, S.Sos., Ph.D
Penguji : 1. Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si.
2. Prof. Dr. Mahendra Wijaya, M.S
3. Dr. Yani Tri Wijayanti, S.Sos, M.Si
Catatan Umum :
Fakultas : Fak. ISIP
×
Halaman Awal : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
Halaman Cover : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
BAB I : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
BAB II : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
BAB III : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
BAB IV : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
BAB V : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
BAB Tambahan : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
Daftar Pustaka : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.
Lampiran : Harus menjadi member dan login terlebih dahulu untuk bisa download.