Keputusan Rektor Universitas Sebelas Maret Surakarta yang mencanangkan untukmengendalikan penggunaan kendaraan bermotor di dalam lingkungan kampusmerupakan langkah yang harus diapresiasi sebagai wujud kepedulian pihakUniversitas Sebelas Maret terhadap kondisi pencemaran udara oleh kendaraanbermotor. Hal ini berhubungan dengan tujuan Pemerintah Kota Surakarta untukmengembangkan transportasi yang berkelanjutan, dengan membenahi sistemtransportasi baik sistem maupun sarana dan prasarana, salah satu moda yangsedang dikembangkan adalah bus Batik Solo Trans. Bus Batik Solo Trans inidiharapkan dapat menjadi pilihan moda perjalanan untuk mahasiswa UNS.Data penelitian dibagi menjadi 2, yaitu data primer dan data sekunder. Dataprimer diperoleh dengan penyebaran kuisioner langsung kepada mahasiswadisetiap fakultas UNS. Survei sekunder dilaksanakan pada instansi-instansi yangterkait dengan BST koridor 2 seperti GIZ, Dinas Perhubungan dan manajemenPT. BST. Kemudian data di analisis untuk mengetahui besarnya bakal potensidemand yang akan berpengaruh terhadap penurunan nilai Biaya OperasionalKendaraan (BOK) BST koridor 2 berdasarkan metode Dephub dan mengetahuidaya beli mahasiswa UNS dari kemampuan (Ability To Pay/ATP) dan kemauan(Willingness To Pay/WTP) untuk membayar tarif BST. Hasil analisis data menunjukkan tarif berdasarkan BOK dengan pembelian bis beliRp. 4.300 sedangkan tarif BOK bis hibah Rp. 3.735. Berdasarkan ATP sebesar Rp2.850. Besarnya nilai WTP sebesar Rp.2.500. Tarif yang berlaku saat ini Rp.3.500. masih lebih besar daripada tarif berdasarkan BOK, ATP dan WTP.Diperlukan adanya evaluasi tarif dari pemerintah agar menarik minat mahasiswauntuk menggunakan BST sebagai moda transportasi utama. Diharapkan tarif yangtelah di evaluasi sesuai dengan BOK, kemampuan dan kemauan penumpang.Pemerintah diharapkan terus berinovasi dalam memberikan kebijakan danperbaikan pelayanan serta fasilitas angkutan umum sehingga nilai load factordapat meningkat dan menarik minat masyarakat untuk menggunakan angkutanumum.