Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) model pembelajaran yang menghasilkan kemampuan pemecahan masalah lebih baik antara model pembelajaran CORE dengan CRT dan model pembelajaran PBL; (2) tingkat self regulated learning (SRL) siswa yang menunjukkan kemampuan pemecahan masalah lebih baik; (3) perbedaan kemampuan pemecahan masalah berdasarkan tingkat SRL pada masing-masing model pembelajaran; serta (4) model pembelajaran yang menghasilkan kemampuan pemecahan masalah lebih baik pada setiap tingkatan SRL siswa. Penelitian ini merupakan eksperimen semu dengan desain faktorial 2×3. Populasi mencakup seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Semin tahun ajaran 2025/2026, dengan sampel kelas VIII D dan VIII A masing-masing berjumlah 32 siswa yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Data diperoleh melalui tes kemampuan pemecahan masalah, angket SRL, dan dokumentasi untuk memperoleh data kondisi awal. Analisis data dilakukan menggunakan analisis variansi dua jalan sel tak sama dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) model pembelajaran CORE dengan CRT menghasilkan kemampuan pemecahan masalah lebih baik daripada model PBL; (2) siswa dengan SRL tinggi memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan siswa dengan SRL sedang dan rendah, serta siswa dengan SRL sedang memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan siswa dengan SRL rendah; (3) pada masing-masing model pembelajaran, siswa dengan SRL tinggi memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan siswa dengan SRL sedang dan rendah, serta siswa dengan SRL sedang memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan siswa dengan SRL rendah; (4) pada masing-masing tingkatan SRL, model pembelajaran CORE dengan CRT menghasilkan kemampuan pemecahan masalah lebih baik daripada model PBL.