Efektivitas penanganan permukiman kumuh memiliki keterkaitan yang erat dengan
ketepatan intervensi terhadap prioritas indikator penanganan pada setiap pola penanganan yang
diterapkan. Penentuan prioritas indikator sejalan dengan dampak yang ditimbulkan, baik dari
segi fisik maupun sosial, pada dampak yang lebih besar dan berat maka membutuhkan indikator
yang lebih kompleks, sementara pada dampak ringan yang ditimbulkan maka dibutuhkan
indikator yang lebih sederhana namun dapat menyesar pada tujuan yang ditetapkan. Dengan
begitu maka pola penanganan permukiman kumuh akan menunjukkan dampak yang signikan
dalam penurunan luas kawasan kumuh.
Salah satu permukiman kumuh yang menunjukkan keberhasilan penurunan luas
kawasan kumuh yang signifikan adalah permukiman kumuh Kawasan Semanggi Kota
Surakarta. Kawasan ini menerapkan tiga pola penanganan permukiman kumuh, yaitu pola
pemugaran , pola peremajaan, dan pola permukiman Kembali. Penurunan luas kawasan kumuh
yang dignifikan didorong melalui penetapan ketiga pola tersebut dan intervensi yang tepat pada
prioritas indikatornya. Prioritas indikator pada setiap pola penanganan memiliki karakteristik
yang berbeda, maka diperlukan kajian masing-masing prioritas indikator pada setiap pola
penanganan yang dilakukan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prioritas indikator dalam pola penanganan
permukiman kumuh Kawasan Semanggi Kota Surakarta. Dengan metode penelitian
menggunakan analisis pairwise comparison yang melibatkan penilaian perbandingan antar
indikator oleh beberapa pemangku kepentingan. Penggunaan analisis ini sejalan dengan peran
pemerintah sebagai aktor utama dalam penanganan permukiman kumuh di Kawasan Semanggi,
sehingga seluruh indikator penanganan dapat diidentifikasi dan dinilai secara komprehensif.
Dengan menggunakan pendapat para ahli, hasil penelitian ini juga didukung dengan deskripsi
masing-masing indikator pada penanganan Kawasan Semanggi Kota Surakarta. Sehingga hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa penentuan prioritas indikator berfungsi sebagai pendorong
efektivitas pelaksanaan pola pemugaran, peremajaan, dan permukiman kembali, serta dapat
digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan penanganan permukiman kumuh yang
lebih terarah dan terstruktur.