Siswa tunanetra lebih rentan memiliki permasalahan regulasi emosi dibandingkan dengan
siswa pada umumnya. Keterbatasan kemampuan penglihatan membuat siswa tunanetra
kerap kali diacuhkan dalam interaksi sosial dan dituntut untuk mampu menyesuaikan diri
dengan lingkungannya, termasuk dalam mengenali, mengekspresikan, dan mengelola
emosi secara mandiri. Kondisi ini membuat proses pengembangan emosi menjadi lebih
kompleks sehingga memerlukan dukungan sosial yang memadai. Dukungan sosial yang
berasal dari keluarga, teman sebaya, dan orang spesial mempunyai peran penting dalam
membantu siswa tunanetra memahami, mengekspresikan, dan mengendalikan emosi secara
adaptif. Tujuan penelitian adalah menganalisis hubungan antara dukungan sosial dan
regulasi emosi pada siswa tunanetra di Kota Surakarta. Penelitian menerapkan pendekatan
kuantitatif melalui metode survei. Sampel terdiri dari 38 siswa tunanetra yang terdaftar
aktif di sekolah Kota Surakarta, dipilih melalui teknik purposive sampling, dengan
komposisi 23 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Instrumen penelitian meliputi
Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) dan Emotion Regulation
Questionnaire (ERQ). Analisis data menggunakan regresi linear sederhana. Hasil
penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial
dan regulasi emosi di kalangan siswa tunanetra Kota Surakarta (t = 2,290; p = 0,028).
Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin kuat dukungan sosial yang diterima siswa
tunanetra, semakin tinggi kemampuan siswa tunanetra dalam mengatur emosi. Selain itu,
temuan lebih jauh ditemukan bahwa dimensi dukungan teman sebaya paling berpengaruh
signifikan terhadap regulasi emosi. Hal ini menegaskan pentingnya penguatan dukungan
sosial melalui pendampingan orang tua, guru, dan tenaga profesional untuk membantu
siswa tunanetra menghadapi tantangan emosional sehari-hari.