Mahasiswa Generasi Z yang menjalani magang dihadapkan pada tuntutan akademik dan pekerjaan yang memerlukan kemampuan adaptasi dan ketahanan mental. Namun, Generasi Z kerap mendapat stigma sebagai strawberry generation karena dianggap kurang mampu menghadapi tekanan yang berujung pada rendahnya resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran kepribadian proaktif dan perceived supervisor support terhadap resiliensi mahasiswa Generasi Z yang sedang menjalani magang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional melalui survei daring. Variabel yang diteliti meliputi kepribadian proaktif (X1), perceived supervisor support (X2), dan resiliensi (Y). Instrumen yang digunakan adalah Resilience at Work Scale (α = 0,861), Proactive Personality Scale (α = 0,826), serta skala adaptasi Survey of Perceived Supervisor Support (α = 0,937). Partisipan penelitian adalah mahasiswa Generasi Z berusia 18–25 tahun yang sedang menjalani magang (N = 152; perempuan = 133; laki-laki = 19) dengan teknik non-probability convenience sampling. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa secara parsial kepribadian proaktif berperan signifikan dengan sumbangan efektif sebesar 7,1% (p < 0,001), sedangkan perceived supervisor support juga berperan signifikan dengan sumbangan efektif sebesar 38,7% (p < 0,001). Secara simultan, kepribadian proaktif dan perceived supervisor support berperan signifikan terhadap resiliensi (R² = 0,458; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa faktor eksternal berupa dukungan supervisor memiliki kontribusi yang lebih dominan dibandingkan faktor internal dalam meningkatkan resiliensi mahasiswa magang. Secara praktis, institusi pendidikan dan organisasi penyelenggara magang perlu mengembangkan sistem supervisi yang suportif, termasuk pemberian umpan balik konstruktif, pendampingan yang responsif, dan penciptaan iklim kerja yang aman secara psikologis.