Penelitian ini berangkat dari meningkatnya perhatian mahasiswa terhadap isu kesehatan mental, yang tidak lepas dari mudahnya akses informasi melalui internet dan media sosial, sehingga memuculkan kecenderungan melakukan self-diagnosis. Praktik ini umunya dilakukan tanpa melibatkan tenaga professional dan berpotensi memengaruhi cara mahasiswa memahami kondisi dirinya sekaligus membentuk pola interaksi sosial di lingkungan kampus. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana mahasiswa memaknai tindakan self-diagnosis yang mereka lakukan serta melihat dampaknya terhadap interaksi sosial, dengan menggunakan perspektif teori tindakan sosial dari Max Weber. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang pernah melakukan self-diagnosis kesehatan mental. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, dengan teknik pemilihan informan menggunakan purposive sampling. Validitas data diuji melalui trianggulasi sumber dan metode, sedamgkan analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-diagnosis dilakukan mahasiswa sebagai upaya memahami kondisi mental yang dialami, seperti stress, kecemasan, dan burnout akibat tekanan akademik maupun faktor pribadi. Mahasiswa cenderung memanfaatkan internet dan media sosial sebagai sumber informasi utama dalam proses tersebut. Self-diagnosis dimaknai sebagai bentuk pencarian kepastian dan validasi diri, meskipun di sisi lain berpotensi menimbulkan kesalahan persepsi dan kecemasan berlebih. Dari segi sosial, self-diagnosis berdampak pada perubahan pola interaksi mahasiswa, seperti menjadi lebih selektif dalam berkomunikasi, membatasi informasi pribadi, hingga munculnya kecenderungan menarik diri. Namun, bagi sebagian mahasiswa, self-diagnosis juga membantu meningkatkan kesadaran diri dalam mengelola emosi dan hubungan sosial. Dalam perspektif teori tindakan sosial Weber, tindakan self-diagnosis merupakan tindakan bermakna yang dipengaruhi oleh pertimbagan rasional sekaligus dorongan emosional, serta selalu berorientasi pada keberadaan orang lain dalam lingkungan sosial. Kata Kunci: Perilaku Self-diagnosis, Kesehatan Mental, Tindakan Sosial, Mahasiswa