Kesehatan mental merupakan isu krusial yang membutuhkan respons sistemik dari perguruan
tinggi melalui University-Based Mental Health Services (UBMHS). Efektivitas layanan tidak
hanya ditentukan oleh sistem yang ada, tetapi juga oleh sumber daya manusia yang
menjalankan, terutama efikasi diri pengelola sebagai keyakinan individu terhadap
kemampuan dalam menjalankan tugas. Meskipun kajian efikasi diri cukup berkembang,
penelitian pada konteks pengelolaan layanan kesehatan mental di perguruan tinggi masih
sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi gambaran efikasi diri pengelola
layanan kesehatan mental mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) serta
faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan
desain studi kasus. Data primer dihimpun melalui wawancara mendalam terhadap lima subjek
yang terlibat langsung dalam pengelolaan unit Student Mental Health and Wellbeing Support
(SMHWS) UMS, diperkuat dengan triangulasi metode berupa observasi dan studi dokumen.
Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efikasi
diri pengelola SMHWS terdiferensiasi berdasarkan aspek layanan dan intensitas keterlibatan.
Keyakinan paling tinggi ditemukan pada domain operasional klinis yang sudah mapan,
seperti penanganan kasus, koordinasi internal, dan standar kualifikasi staf, sementara
keyakinan lebih terbatas pada domain yang memerlukan koordinasi lintas sistem seperti
pengembangan program peer support dan perluasan promosi layanan. Efikasi diri pengelola
dipengaruhi oleh empat faktor utama, yaitu pengalaman dan kompetensi sebagai faktor paling
dominan, lingkungan sosial dan kolaborasi tim, kondisi internal psikologis, serta dukungan
institusional. Penelitian ini juga menemukan faktor emergent berupa kepatuhan terhadap etika
profesional yang berfungsi sebagai sumber legitimasi dalam pengambilan keputusan klinis
maupun administratif.