Layanan kesehatan mental berbasis kampus adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan universitas dalam memberikan dukungan psikologis untuk mahasiswa. Maka dari itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran layanan kesehatan mental dan hambatan yang dialami oleh mahasiswa dalam mengaksesnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi kasus dengan wawancara bersama mahasiswa, observasi layanan konseling, serta studi dokumen layanan. Hasilnya, mayoritas mahasiswa memiliki gambaran positif mengenai manfaat yang akan didapatkan dari layanan. Namun, gambaran tingkat aksesibilitas layanan masih bervariasi sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki mahasiswa. Selain itu, juga diketahui hambatan yang membuat mahasiswa belum juga mengakses layanan, meskipun mengetahui keberadaan serta manfaat layanan, yaitu hambatan personal yang memuat kurangnya waktu, pengalaman negatif dengan layanan lain, devaluasi yang dirasakan, kesulitan dalam mengungkapkan diri, kemandirian, dan kekurangan informasi. Hambatan dari sosial-budaya antara lain, rekomendasi sosial, stigma dari masyarakat, dan stigma dari orang terdekat. Terakhir adalah hambatan struktural, yaitu kerumitan prosedur, waktu operasional terbatas, dan peran ganda konselor. Dari hambatan-hambatan tersebut, didapatkan juga saran perbaikan untuk layanan, antara lain, perbaikan dan kejelasan prosedur, penyebaran informasi yang lebih menyeluruh dan promosi, serta mengenai kesulitan mahasiswa dalam menentukan jadwal konseling, sehingga diperlukan sumber daya manusia tambahan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gambaran dan penilaian mahasiswa terkait layanan cenderung positif. Namun, masih ada beberapa faktor yang menghambat mahasiswa untuk mengakses layanan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan evaluasi serta perbaikan untuk membentuk layanan konseling yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.