Jumlah lansia di Indonesia meningkat tetapi perilaku individualis menyebabkan anggota
keluarga usia produktif menganggap lansia sebagai beban dan memutuskan untuk
menempatkan mereka ke panti werdha. Lansia yang gagal beradaptasi akan merasa terasing
dan rendah diri sehingga berpengaruh pada kesejahteraan psikologis mereka. Salah satu upaya
yang dapat dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan psikologis
lansia adalah Pelatihan Nostalgia (PN) sebagai bentuk reflektif dari Reminiscence Therapy.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh Pelatihan Nostalgia terhadap kesejahteraan
psikologis lansia di panti werdha di Solo Raya. Penelitian ini menggunakan metode kuasi
eksperimental dengan desain nonequivalent control group pretest-posttest. Penelitian ini
diikuti oleh lansia yang tinggal di panti werdha di Solo Raya dan ditentukan dengan metode
purposive sampling. Kriteria tersebut meliputi mampu menghadiri sesi kelompok, memiliki
kemampuan komunikasi dan penglihatan yang baik, tidak didiagnosis gangguan psikologis,
tinggal di panti werdha minimal dua bulan, dan bersedia berpartisipasi. Kesejahteraan
psikologis lansia diukur menggunakan Skala Kesejahteraan Psikologis. Data dianalisis dengan
Uji Mann–Whitney dan Uji Wilcoxon–Signed rank. Uji statistik terhadap 21 lansia yang
terbagi ke dalam kelompok eksperimen (n = 10) dan kelompok kontrol (n = 11) menunjukkan
PN tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kesejahteraan psikologis lansia di panti
werdha (U = 33,500; p = 0,130). Akan tetapi, khusus pada kelompok eksperimen terdapat
peningkatan N-Gain yang signifikan setelah mendapat PN (Z = -2,201; p = 0,028). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa PN belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
kesejahteraan psikologis lansia di panti werdha. Oleh karena itu, peneliti berikutnya dapat
mempertimbangkan durasi, intensitas, dan konteks pelaksanaan intervensi.