Afiana Febryan K.P.S, G0022004, 2026. Hubungan Tingkat Stres Dengan Kontrol Glikemik Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2. Skripsi. Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret, Surakarta.Pendahuluan : Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang ditandai dengan gangguan sekresi insulin dan resistensi insulin sehingga menyebabkan peningkatan kadar glukosa darah. Pengendalian glikemik pada pasien DM tipe 2 dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah stres. Aktivasi hypothalamus-pituitary-adrenal axis saat stres dapat meningkatkan sekresi hormon kortisol yang berkontribusi terhadap peningkatan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat stres dengan kontrol glikemik pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Universitas Sebelas Maret Surakarta pada bulan Maret–April 2025. Teknik sampling menggunakan total sampling dengan jumlah responden sebanyak 35 pasien DM tipe 2 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Tingkat stres diukur menggunakan kuesioner Perceived Stress Scale-10 (PSS-10), sedangkan kontrol glikemik dinilai berdasarkan kadar HbA1c, gula darah puasa (GDP), dan glukosa darah 2 jam postprandial kapiler. Analisis bivariat menggunakan uji Gamma.Hasil : Sebagian besar responden mengalami stres sedang sebanyak 30 orang (85,7%). Hasil uji Gamma menunjukkan hubungan antara tingkat stres dengan HbA1c memiliki nilai γ = 0,217 dan p = 0,673, hubungan tingkat stres dengan GDP memiliki nilai γ = 0,373 dan p = 0,486, serta hubungan tingkat stres dengan glukosa darah 2 jam postprandial kapiler memiliki nilai γ = 0,068 dan p = 0,888. Hasil tersebut menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kontrol glikemik pada pasien DM tipe 2.Simpulan : Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan kontrol glikemik berdasarkan parameter HbA1c, gula darah puasa, dan glukosa darah 2 jam postprandial kapiler pada pasien diabetes melitus tipe 2.