Latar
Belakang: Infeksi kulit dan
jaringan lunak merupakan masalah kesehatan yang dapat menyebabkan komplikasi
berat dan peningkatan mortalitas. Pseudomonas aeruginosa merupakan salah
satu penyebab penting infeksi kulit dan jaringan lunak yang menunjukkan
peningkatan resistensi terhadap karbapenem sehingga menimbulkan tantangan dalam
terapi dan memperburuk luaran klinis pasien. Data mengenai faktor risiko Carbapenem-Resistant
Pseudomonas aeruginosa (CRPA) pada infeksi kulit dan jaringan lunak di
Indonesia masih terbatas. Metode: Penelitian dengan pendekatan cohort retrospektif ini dilaksanakan di
Rumah Sakit Umum Dr.Moewardi, Surakarta menggunakan data rekam medis pasien
dari Januari sampai Desember 2026. Data yang dikumpulkan terdiri atas usia, riwayat
imunokompromais, riwayat penggunaan implan ortopedi, riwayat penggunaan
antibiotik, dan komorbiditas. Analisis dilakukan dengan uji Chi-Square,
dilanjutkan dengan uji regresi logistik berganda untuk menentukan hubungan
antara variabel independen dan kejadian CRPA.Hasil: Penelitian ini melibatkan 160 pasien dengan infeksi kulit dan
jaringan lunak akibat Pseudomonas aeruginosa dan didominasi oleh pasien
berusia 18–64 tahun (61,3%), riwayat imunokompromais (50,6%), tidak memiliki
riwayat penggunaan implan ortopedi (88,8%), memiliki riwayat penggunaan
antibiotik (94,4%), dan memiliki komorbiditas (90%). Hasil analisis regresi
logistik berganda menunjukkan bahwa diabetes melitus merupakan satu-satunya
faktor yang berpengaruh signifikan terhadap kejadian CRPA (p=0,045; OR=2,705;
CI95%=1,021–7,162), sedangkan usia, riwayat imunokompromais, riwayat penggunaan
implan ortopedi, riwayat penggunaan antibiotik, komorbiditas, jumlah jenis antibiotik,
HIV, penyakit jantung, dan stroke tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan
(p>0,05).
Simpulan: Berdasarkan hasil observasi terhadap data rekam medis pasien, dapat
disimpulkan bahwa faktor risiko usia, riwayat imunokompromais, riwayat
penggunaan implan ortopedi, riwayat penggunaan antibiotik, dan komorbiditas
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian CRPA. Namun, diabetes
melitus terbukti sebagai faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap
kejadian CRPA pada analisis multivariat (p=0,045), dengan pasien diabetes
melitus memiliki risiko 2,705 kali lebih besar mengalami infeksi CRPA dibandingkan
pasien tanpa diabetes melitus (OR=2,705; 95% CI=1,021–7,162).