Pendahuluan: Wilayah solo raya mengalami peningkatan pasien dengan diabetes melitus sebanyak 75.185 orang ditahun 2018 dan sebanyak 139.201 orang ditahun 2019. Ulkus diabetes mudah berkembang menjadi infeksi karena bakteri atau kuman yang masuk ke dalam luka penderita diabetes melitus. Perawatan yang tidak memadai dapat menyebabkan perkembangan infeksi yang cepat, dimulai dari permukaan dan lalu ke jaringan yang lebih dalam, termasuk otot, sendi, tulang dan bahkan menyebar secara sistemik,yang dapat menyebabkan sepsis.Metode Penelitian dilakukan dengan desain deskriptif analitik menggunakan pendekatan cross-sectional pada 84 pasien. Variabel yang diteliti meliputi usia, derajat ulkus, kadar gula darah sewaktu, kadar leukosit, dan jenis kuman.Hasil dan Pembahasan : Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas pasien berada dalam kelompok usia ≥45 tahun (96,43%) dengan derajat ulkus dominan pada tingkat 4 (48,81%). Sebagian besar pasien memiliki kadar gula darah sewaktu <200> mg/dL (60,71%) dan kadar leukosit yang meningkat (70,24%). Analisis bivariat dan multivariat menunjukkan bahwa dari kelima variabel didapatkan variabel yang paling berpngaruh adalah jenis kuman terhadap risiko kejadian sepsis pada ulkus diabetes dengan nilai p = <0 xss=removed>Kesimpulan : Kesimpulannya, faktor jenis kuman memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian sepsis pada ulkus diabetes melitus. Akan tetapi, parameter lain seperti usia, derajat ulkus, kadar leukosit dan gula darah sewaktu, tetap perlu dipertimbangkan dalam evaluasi klinis. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan deteksi dini dan pengelolaan komprehensif pada pasien ulkus diabetes untuk mencegah sepsis.