Pedagang Kaki Lima (PKL) merupakan
bagian penting dari sektor ekonomi informal yang memanfaatkan ruang publik
sebagai tempat beraktivitas. Di Kota Surakarta, pengembangan night market
di Koridor Gatot Subroto dan Koridor Ngarsopuro menjadi salah satu bentuk
penataan PKL dengan karakteristik pemanfaatan ruang yang berbeda di kedua
koridor. Perbedaan tersebut diduga membentuk perilaku PKL yang berbeda pula.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemanfaatan ruang berupa aksesibilitas,
lokasi, pemeliharaan lapak berdagang, dan sarana dagang, terhadap variabel perilaku
PKL, yaitu strategi menata orientasi lapak, kemudahan beraktivitas, keamanan,
dan adaptabilitas, di night market Koridor Gatot Subroto dan Koridor
Ngarsopuro, Kota Surakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan menggunakan teknik analisis komparasi uji Chi-Square dan analisis
regresi logistik biner. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan
penyebaran kuesioner kepada PKL.Hasil analisis komparasi
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perilaku PKL pada kedua koridor di seluruh
aspek variabel perilaku PKL. Kemudian, hasil analisis regresi logistik biner
menunjukkan bahwa hanya perilaku keamanan dan adaptabilitas yang dipengaruhi
oleh faktor pemanfaatan ruang, dan hanya faktor lokasi dan pemeliharaan lapak
berdagang yang kemudian mempengaruhi perilaku PKL tersebut. PKL merasa lebih
aman jika berada pada ruang yang memiliki kejelasan teritori antara kawasan
privat dan publik. Selain itu, kondisi lapak yang terpelihara kualitasnya mampu
memperkuat kontrol PKL untuk meminimalkan risiko kerugian atau kerusakan
dagangan dan dapat memudahkan untuk beradaptasi meskipun terdapat perubahan
kondisi lapak. Sedangkan untuk strategi menata orientasi lapak dan
kemudahan beraktivitas dalam konteks night market lebih banyak
ditentukan oleh faktor-faktor lain di luar penelitian.