Rusunawa
Cokrodirjan merupakan rumah susun sederhana sewa pertama di Kota Yogyakarta
yang dibangun untuk menyediakan hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat
berpenghasilan rendah (MBR). Berbeda dengan rusunawa pada umumnya yang berada
di pinggiran kota, rusunawa ini terletak di pusat kota di tengah permukiman
padat penduduk pada bantaran Sungai Code, sehingga menghadapi tantangan
keberlanjutan, khususnya tekanan lingkungan akibat keterbatasan lahan dan
kepadatan penghuni. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan sejauh mana
rusunawa ini mampu mendukung keberlanjutan kehidupan penghuninya, tidak sekadar
layak secara fisik. Penelitian ini bertujuan menilai kesesuaian Rusunawa
Cokrodirjan terhadap konsep sustainable settlement yang ditinjau dari empat
dimensi, yaitu lingkungan, sosial, ekonomi, dan tata kelola. Penelitian
menggunakan pendekatan deduktif dengan jenis deskriptif kuantitatif melalui
metode skoring. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan observasi
lapangan terhadap seluruh populasi sebanyak 71 unit hunian yang masing-masing
diwakili satu kepala keluarga. Hasil penelitian menunjukkan tingkat kesesuaian
keseluruhan sebesar 70,26% dengan klasifikasi cukup sesuai. Dimensi tata kelola
memperoleh capaian tertinggi (83,33%, sesuai) berkat pengelola yang aktif,
organisasi penghuni yang efektif, dan partisipasi penghuni yang tinggi, disusul
dimensi sosial (78,33%, sesuai) yang didukung fasilitas bersama dan interaksi
sosial yang erat hingga menyatu dengan warga sekitar. Sementara itu, dimensi
lingkungan (61,11%) tergolong kurang sesuai akibat kepadatan hunian, minimnya
ruang terbuka hijau, dan belum tertatanya pengelolaan persampahan, dan dimensi
ekonomi (58,27%) menjadi capaian terendah karena pendapatan penghuni yang
rendah, dominasi pekerjaan sektor informal, serta minimnya pemberdayaan
ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa kekuatan keberlanjutan Rusunawa
Cokrodirjan bersumber dari dimensi sosial dan tata kelola yang ditopang modal
sosial penghuni serta pengelolaan berbasis komunitas, sementara dimensi
lingkungan dan ekonomi menjadi penghambat utama, sehingga Rusunawa Cokrodirjan
belum sepenuhnya memenuhi prinsip keberlanjutan secara menyeluruh.