Pertambahan jumlah penduduk yang terus meningkat menyebabkan alih fungsi lahan pertanian menjadi permukiman dan fasilitas umum sehingga ketersediaan lahan budidaya semakin terbatas. Kondisi tersebut mendorong perlunya pengembangan komoditas pangan yang dapat dibudidayakan pada lahan sempit, salah satunya bayam malabar merah (Basella rubra L.) yang memiliki nilai gizi dan potensi ekonomi. Tugas akhir ini bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung dalam budidaya bayam malabar merah secara konvensional dalam polybag serta menganalisis kelayakan usahataninya. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Jebres, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta pada bulan April hingga Juni 2026 dengan metode praktik lapang, studi pustaka, dokumentasi, dan analisis usahatani. Praktik lapang meliputi persiapan lahan dan media tanam, penyemaian, penanaman, pemeliharaan, panen, pascapanen, dan pemasaran. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa budidaya bayam malabar merah dalam polybag dapat dilakukan dengan baik pada lahan terbatas. Sebanyak 210 tanaman menghasilkan total panen 95 kg yang dipanen sebanyak tiga kali, yaitu pada umur 54 HST, 62 HST, dan 71 HST. Produk dipasarkan secara langsung kepada konsumen dan melalui media sosial dengan harga jual Rp20.000 per kilogram. Analisis usahatani menunjukkan total biaya produksi sebesar Rp1.537.000, penerimaan sebesar Rp1.900.000, dan keuntungan sebesar Rp363.000. Nilai R/C Ratio sebesar 1,24 dan B/C Ratio sebesar 0,24 menunjukkan bahwa usaha yang dijalankan layak dan menguntungkan. Nilai BEP penerimaan sebesar Rp304.347 dan BEP produksi sebesar 76,85 kg. Berdasarkan hasil tersebut, budidaya bayam malabar merah (Basella rubra L.) secara konvensional dalam polybag layak dikembangkan sebagai alternatif pemanfaatan lahan sempit di wilayah perkotaan.