Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan
tanaman herbal yang memiliki nilai potensi tinggi dan banyak dimanfaatkan
sebagai bahan baku obat tradisional, pangan, serta industri. Perbanyakan kencur
umumnya dilakukan secara vegetatif menggunakan rimpang karena tanaman ini sulit
menghasilkan biji. Namun, penggunaan rimpang sebagai bahan tanam masih menjadi
kendala dalam budidaya karena rimpang merupakan bagian utama tanaman yang
dimanfaatkan untuk konsumsi dan industri, sehingga dapat mengurangi
ketersediaan bahan produksi. Oleh karena itu, diperlukan teknik pembibitan yang
tepat untuk menghasilkan bibit kencur yang mampu mendukung ketersediaan bahan
tanam. Penggunaan pupuk kotoran hewan dapat memperbaiki kualitas media tanam
dan menyediakan unsur hara secara bertahap, sedangkan pemberian hormon auksin
berperan dalam merangsang pembentukan akar dan pertumbuhan awal tanaman. Tugas
akhir ini bertujuan untuk mempelajari komposisi pupuk kotoran hewan dan hormon
auksin yang paling efektif untuk meningkatkan pertumbuhan bibit kencur serta menganalisis
kelayakan usahatani pembibitannya. Penelitian dilaksanakan di Tanon Kidul, RT
04/RW 04 Gedongan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah pada
bulan Februari–April 2026. Bahan tanam yang digunakan berupa rimpang kencur
yang memiliki mata tunas sehat. Aplikasi terdiri atas dua jenis komposisi media
tanam, yaitu campuran sekam dan pupuk kotoran sapi (1:1) serta sekam dan pupuk
kotoran kambing (1:1),, serta tiga taraf hormon auksin IAA, yaitu 0 ppm, 10 ppm,
dan 20 ppm. Pengamatan dilakukan terhadap persentase tumbuh, tinggi tanaman,
jumlah daun, dan kondisi akhir akar. Analisis usahatani meliputi biaya tetap,
biaya variabel, biaya total, penerimaan, keuntungan, R/C ratio, B/C ratio, dan
BEP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi media tanam sekam dan pupuk
kotoran sapi (1:1) dengan penambahan auksin IAA 1 ppm merupakan kombinasi
terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif bibit kencur, yang ditunjukkan
oleh persentase tumbuh tinggi dan stabil, tinggi tanaman tertinggi sebesar 11,3
cm, serta perkembangan daun yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya.
Sementara itu, berdasarkan analisis usahatani, perlakuan pupuk kotoran kambing
tanpa auksin merupakan alternatif yang paling layak secara ekonomi karena
menghasilkan keuntungan sebesar Rp46.392, nilai R/C ratio sebesar 1,14, nilai
B/C ratio sebesar 0,15, serta BEP produksi terendah sebesar 34,85 polybag,
sehingga lebih cepat mencapai titik impas dibandingkan perlakuan lainnya.