Konsumsi jagung basah rumah
tangga Indonesia diperkirakan meningkat pada 2025–2027 menjadi 2,3 kg/kapita;
2,4 kg/kapita; dan 2,6 kg/kapita, dengan pertumbuhan 5,58% (2026) dan 5,54%
(2027). Produksi jagung nasional tercatat 16,16 juta ton, namun produktivitas
pada lahan kering Inceptisol masih rendah, sekitar 1,2 ton/ha. Tanah Inceptisol
memiliki kadar N dan ketersediaan Si yang rendah. Pupuk Kalsium Silika
berpotensi meningkatkan kebutuhan hara N, Si dan pertumbuhan jagung secara
bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh imbangan pupuk
Kalsium Silika dengan pupuk NPK untuk meningkatkan serapan hara N, Si dan kadar
klorofil serta pertumbuhan jagung hibrida pada tanah Inceptisol. Peneltian
menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) faktor tunggal dengan 9
perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang digunakan yakni, (A) Kontrol; (B) NPK Rekomendasi; (C) 1 Ca Si; (D) ½ NPK + 1 Ca Si; (E) ¾ NPK +1 Ca Si; (F) 1 NPK + 1 Ca Si;
(G) ¾ NPK + ½ Ca Si; (H) ¾ NPK + ¾ Ca Si; (I) ¾ NPK + 1 ½ Ca Si. Parameter yang
diamati meliputi pH H2O, C organik, Kapasitas Tukar Kation, N total,
Si tersedia, serapan N dan Si, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun,
dan berat brangkasan kering panen. Data dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA
dan DMRT bertaraf kepercayaan 95% serta uji korelasi pearson. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perlakuan (E) ¾ NPK +1 Ca Si merupakan imbangan
pupuk yang direkomendasikan sebab meningkatkan hasil dari kontrol dan NPK
Rekomendasi pada serapan N (175%, 39%), serapan Si (206%, 88%), kadar klorofil
(114%, 48%), tinggi tanaman (23,4%; 8,29%), diameter batang (44,3%; 10,4%),
jumlah daun (8,98%), berat brangkasan kering panen (75,78%, 8,24%). Perlakuan
yang direkomendasikan tersebut juga mampu mengurangi penggunaan dosis NPK
sebesar 25%.