Karapan sapi merupakan warisan budaya masyarakat Madura yang sarat akan nilai sosial, ekonomi, dan prestise kultural, sehingga kelestariannya perlu terus dipertahankan. Keberlanjutan tradisi sosiokultural ini sangat bergantung pada kuatnya motivasi masyarakat pelestari, yang secara dinamis dipengaruhi oleh interaksi berbagai karakteristik sosial ekonomi yang melingkupinya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi tingkat motivasi masyarakat pelestari sapi karapan; (2) mendeskripsikan karakteristik sosial ekonomi masyarakat Pelestari; serta (3) menganalisis hubungan antara karakteristik sosial ekonomi dengan motivasi masyarakat pelestari sapi karapan di Komunitas Pakarsakera Kabupaten Sampang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dan asosiatif melalui metode survei. Penentuan sampel menggunakan teknik convenience sampling (accidental sampling) berdasarkan kriteria keterjangkauan dan kesediaan responden di lapangan, dengan jumlah responden sebanyak 30 orang dari total populasi 120 orang anggota Komunitas Pakarsakera. Pengumpulan data dilakukan melalui survei dengan kuesioner terstruktur (secara berani), observasi lapangan, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif berdasarkan Teori Hierarki Kebutuhan Maslow dan diuji secara statistik non-parametrik menggunakan Uji Korelasi Rank Spearman pada taraf signifikansi α = 0,05 dan α = 0,01 melalui program IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat motivasi masyarakat Pelestari sapi karapan di Komunitas Pakarsakera Kabupaten Sampang secara keseluruhan berada pada kategori tinggi. Tingginya motivasi ini didorong secara dominan dengan menyediakan kebutuhan sosial (63,33% sangat tinggi), kebutuhan akan diberikan penghargaan (53,33% sangat tinggi), serta kebutuhan aktualisasi diri (46,67% sangat tinggi). Temuan ini menunjukkan bahwa bagi pelestari, merawat sapi karapan bukan sekadar aktivitas berorientasi ekonomi dasar, melainkan sarana memperluas hubungan sosial, meraih status sosial gengsi, dan mewujudkan tanggung jawab moral dalam melestarikan warisan leluhur. Hasil analisis Korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara umur (ρ = 0,455), tingkat pendidikan (ρ = 0,481), pengalaman merawat (ρ = 0,578), pendapatan (ρ = 0,698) dan lingkungan sosial (ρ = 0,661), dengan motivasi masyarakat pelestari. Di antara variabel-variabel tersebut, pendapatan merupakan karakteristik internal dengan hubungan positif yang paling kuat, sedangkan lingkungan sosial menjadi karakteristik eksternal terkuat. Sebaliknya, variabel jumlah kepemilikan sapi karapan (ρ = 0,273), dan jumlah tanggungan keluarga (ρ = 0,200), tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan motivasi pelestari. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa kepunahan tradisi karapan sapi di daerah penelitian sangat didukung oleh stabilitas kemapanan ekonomi pelestari serta kuatnya ikatan solidaritas kultural di dalam paguyuban lokal.