Diversifikasi pangan dapat mendukung ketahanan pangan dengan meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal seperti ganyong (Canna edulis Kerr.), yang dapat diolah menjadi pati dan mie bernilai tinggi. Namun, UMKM pati ganyong dan mie ganyong di Provinsi Jawa Tengah selama ini beroperasi tanpa pemahaman yang memadai mengenai biaya produksi, efisiensi, maupun nilai tambah. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan biaya, efisiensi, dan nilai tambah dari kedua jenis UMKM tersebut. Metode deskriptif analisis diterapkan di dua lokasi yang dipilih secara purposive, yaitu Kecamatan Selo dan Kecamatan Bukateja, dengan melibatkan 141 responden UMKM pati ganyong dan 22 responden UMKM mie ganyong yang dipilih melalui snowball sampling, berdasarkan wawancara, observasi, pencatatan, dan dokumentasi. Analisis data meliputi analisis biaya dan penerimaan, efisiensi R/C ratio, nilai tambah metode Hayami, serta uji beda menggunakan Mann-Whitney, dengan Independent Sample t-test sebagai robustness check. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata biaya produksi sebesar Rp252.619/bulan dengan R/C ratio 2,6 untuk UMKM pati ganyong, sedangkan UMKM mie ganyong sebesar Rp1.752.512/bulan dengan R/C ratio 1,3; keduanya tergolong efisien (R/C > 1). Nilai tambah sebesar Rp5.100/Kg bahan baku (rasio 68%, kategori tinggi) untuk pati ganyong dan Rp12.411/Kg (rasio 31%, kategori sedang) untuk mie ganyong, dengan perbedaan yang signifikan pada biaya, efisiensi, dan nilai tambah antara keduanya. Temuan ini menunjukkan perlunya strategi pemberdayaan yang berbeda yaitu menjamin keberlanjutan bahan baku bagi UMKM pati ganyong dan memperkuat akses pasar serta teknologi bagi UMKM mie ganyong guna mendukung agroindustri berbasis ganyong yang berkelanjutan dalam rangka diversifikasi pangan daerah.