Permasalahan sampah organik di Kota Surakarta semakin serius, terutama
dengan tingginya kepadatan penduduk. Sampah organik, yang mencapai 70,34?ri total sampah kota, menumpuk di TPA Putri Cempo dan hanya ditangani
melalui sistem open dumping, yang berpotensi menghasilkan gas metana, bau
busuk, dan sumber penyakit. Untuk mengatasi masalah ini, pengomposan menjadi
alternatif pengelolaan yang efektif. Proses pengomposan dapat dipercepat dengan
pemanfaatan bioaktivator, seperti EM4 (komersial) dan bioaktivator buatan seperti
Mikroorganisme Lokal (MOL), Biofilm Biofertilizer (BFBF), dan ecoenzim.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kualitas kompos yang dihasilkan
menggunakan berbagai macam bioaktivator dan menganalisis kecepatan proses
pengomposan menggunakan berbagai bioaktivator berdasarkan nilai rasio C/N.
Pengomposan dilakukan di dalam ember yang diberi lubang. Bahan kompos berasal
dari 3 sumber sampah organik yaitu sampah industri PT Lombok Gandaria, sampah
TPA Putri Cempo dan sampah kampus UNS. Bioaktivator yang digunakan untuk
pengomposan ada 6 diantaranya EM4, MOL sampah industri, MOL sampah TPA,
MOL sampah kampus, Biofilm Biofertilizer (BFBF), dan ecoenzim. Dilakukan
penyiapan bioaktivator kemudian dilanjutkan pengomposan selama 60 hari.
Analisis parameter kompos di laboratorium kemudian datanya dianalisis secara
statistik menggunakan ANOVA tingkat kepercayaan 95%, jika menujukkan
perbedaan nyata (p<0> Penggunan bioaktivator MOL sampah TPA + sampah TPA menghasilkan
C-organik terendah sebesar 26,41%, sementara N-total tertinggi dicapai dengan
perlakuan MOL sampah TPA + sampah industri yaitu sebesar 4,65%. Perlakuan
ecoenzim + sampah industri menghasilkan P total tertinggi sebesar 0,187?n
perlakuan MOL sampah TPA + sampah TPA menghasilkan nilai K-total tertinggi
yaitu sebesar 4,11%. Rasio C/N terendah dan persentase penurunan tertinggi
tercapai dengan penggunaan MOL sampah TPA + sampah industri dengan
penurunan rasio C/N dari 27,95 menjadi 6,05 atau sebesar 78,35%. Bioaktivator
paling efektif yaitu MOL sampah TPA karena dapat mempercepat penurunan nilai
rasio C/N. Berdasarkan standar mutu Kepmentan 261/2019, hampir semua
perlakuan memenuhi kriteria kecuali pada perlakuan sampah TPA + EM4 dan
sampah TPA + MOL sampah kampus karena nilai rasio C/N masih tergolong tinggi.