Suwiji Lestari.K3321068.Pembimbing I: Dr. Maria Ulfa, S.Si., M.Si. PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN KOMPETENSI MINIMUM (AKM) BERBASIS SUSTAINABLE DEVELOPMENT GOALS (SDGs) DAN ETNOSAINS PADA MATERI HUKUM-HUKUM DASAR KIMIA UNTUK ANALISIS LITERASI NUMERASI SISWA KELAS X SMA NEGERI 7 SURAKARTA. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta. Juli 2025.Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menguji kelayakan butir soal AKM berbasis SDGs dan etnosains pada materi Hukum-Hukum Dasar Kimia ditinjau dari aspek reliabilitas, daya pembeda, dan tingkat kesukaran; (2) menganalisis penerapan instrumen Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) berbasis Sustainable Development Goals (SDGs) dan etnosains dalam meningkatkan literasi numerasi siswa kelas X pada materi Hukum-Hukum Dasar Kimia; serta (3) menganalisis literasi numerasi siswa berdasarkan hasil pengukuran menggunakan instrumen AKM pada materi Hukum-Hukum Dasar Kimia berbasis SDGs. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik purposive sampling. Sampel terdiri dari 102 siswa kelas X-A, X-F, dan X-G di SMA Negeri 7 Surakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui tes dan wawancara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1). penggunaan instrumen AKM literasi numerasi berbasis SDGs dan etnosains memberikan kontribusi positif dalam mengukur dan memetakan literasi numerasi siswa. Instrumen ini tidak hanya menilai aspek kognitif, tetapi juga mengaitkan konteks global dan lokal, sehingga mendorong siswa untuk berpikir kritis terhadap permasalahan nyata. 2). dari aspek kelayakan butir soal, instrumen dinyatakan sangat reliabel dengan nilai item reliability sebesar 0,97 dengan kategori istimewa, person reliability sebesar 0,91 dengan kategori sangat baik, dan alpha Cronbach sebesar 0,92 dengan kategori sangat baik. Sebanyak 22 dari 30 butir soal (73,33%) dinyatakan fit terhadap model Rasch, sedangkan 8 butir (26,67%) tidak fit. Tingkat kesukaran soal menunjukkan dominasi pada kategori sulit (63,33%), sedang (33,33%), dan hanya 3,33% tergolong mudah, sehingga perlu penyesuaian agar distribusi soal lebih proporsional. 3). hasil pengukuran literasi numerasi menunjukkan bahwa 16% siswa berada pada kategori mahir, 17% cakap, 17% dasar, dan 50% perlu intervensi khusus.