Arip Wira Utama, KAJIAN EKOKRITIK DAN NILAI KEARIFAN LOKAL
DALAM KUMPULAN CERITA PEDUSUNAN BUNGA RAMPAI TOPONIMI
DI KABUPATEN SRAGEN SERTA PEMANFAATANNYA SEBAGAI BAHAN
AJAR SASTRA BERBASIS ETNOSAINS DI SMA. Skripsi, Fakultas Keguruan
dan Ilmu pendidikan Universitas Sebelas Maret. Maret 2025.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bentuk-bentuk
kajian ekokritik dan nilai kearifan lokal pada kumpulan Cerita Pedusunan Bunga
Rampai Toponimi di Kabupaten Sragen. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji
pemanfaatan hasil kajian ekokritik dan nilai kearifan lokal sebagai bahan ajar sastra
berbasis etnosains di SMA. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif
dengan pendekatan kajian ekokritik dan kajian nilai kearifan lokal. Sumber data
dalam penelitian ini berupa dokumen yang terdapat dalam kumpulan Cerita
Pedusunan Bunga Rampai Toponimi di Kabupaten Sragen, guru, dan peserta didik
SMA N 1 Gemolong. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dokumentasi,
simak, catat, dan wawancara. Uji validitas data pada penelitian ini menggunakan
triangulasi teori dan sumber data. Teknik analisis data menggunakan teknik
interaktif. Hasil penelitian kajian ekokritik dan kajian nilai kearifan lokal
disimpulkan sebagai berikut. Kesatu, terdapat 18 temuan data dalam 14 judul cerita
rakyat. Dilihat dalam segi temuan data kritik ekologi memiliki frekuensi 5 temuan
data kritik terhadap hutan dan binatang. Hal ini menunjukkan bahwa Cerita
Pedusunan Bunga Rampai Toponimi di Kabupaten Sragen secara garis besar
memuat kajian ekokritik. Kedua, Bentuk nilai kearifan lokal yang memiliki
frekuensi temuan data tertinggi dengan jumlah 7 data adalah bentuk nilai kearifan
lokal religius. Nilai kearifan lokal ini menekankan kepada hubungan manusia
sebagai faktor utama dalam dinamika perkembangan ekologi terhadap Tuhan Yang
Maha Esa sebagai sang maha pencipta segala dengan semua kehendak dan
keridhoannya mengatur arah dunia dan seisinya. Bentuk nilai kearifan lokal religius
terbagi menjadi dua bagian pembahasan sebagai temuan yang dominan muncul
dalam kumpulan cerita tersebut berisi tradisi nyadran dan upacara pernikahan.
Ketiga, pemanfaatan kumpulan Cerita Pedusunan Bunga Rampai Toponimi di
Kabupaten Sragen yang berisi nilai ekologi dan nilai kearifan lokal tidak hanya
layak, tetapi juga strategis sebagai sumber belajar dalam mendukung capaian
pembelajaran sastra, khususnya materi “Menyusuri Nilai dalam Cerita Lintas
Zaman” pada fase E atau kelas X SMA. Hal tersebut karena bahan ajar sastra
berbasis etnosains yang dikembangkan oleh peneliti telah memenuhi cakupan
bahan ajar sastra yang baik antara lain : (1) disusun secara sistematis, (2) Sebagai
alat bantu pengajar, (3) berfungsi sebagai media informasi, (4) sebagai pedoman
pembelajaran, dan (5) mendukung keberhasilan pembelajaran.