RINGKASANMorita Dwi Tinaningsih “KABARI” Sebagai Model Promosi Kesehatan Digital UntukMeningkatkan Kompetensi Deteksi Dini Kehamilan Berisiko, Program Doktor PenyuluhanPembangunan/ Pemberdayaan Masyarakat, Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas MaretSurakarta. Ketua Komisi Promotor: Prof. Dr. Sri Sulistyowati, dr., Sp. OG (K); Ko-Promotor I: Prof. Dr. Mahendra Wijaya, M.S; Ko-Promotor II : Dr. Ir. Sugiharjo, M.SPendahuluan Tingkat kematian ibu (Maternal Mortality Ratio/AKI) di Indonesia masihmenjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian khusus. Berdasarkan data tahun 2020,AKI di Indonesia tercatat mencapai 305 kematian per 100.000 kelahiran hidup, angka yangmasih jauh dari target yang ditetapkan oleh Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu 70kematian per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2030. Masalah kematian ibu dan bayi inimerupakan tantangan global, terutama di negara-negara berkembang yang memilikiketerbatasan akses terhadap layanan kesehatan berkualitas, termasuk Indonesia. Faktor-faktorutama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu di Indonesia meliputiperdarahan, infeksi, hipertensi, serta praktik aborsi yang tidak aman. Faktor-faktor ini semakindiperburuk oleh ketidakmerataan akses terhadap layanan kesehatan, rendahnya tingkatpendidikan kesehatan di masyarakat, serta minimnya pengetahuan terkait kesehatan ibu dananak. Dalam rangka mengatasi permasalahan ini, Pemerintah Indonesia telah menginisiasiberbagai program strategis, seperti Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS) danGerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), yang bertujuan untuk menurunkan AKI sertameningkatkan mutu layanan kesehatan ibu dan anak. Selain itu, kader kesehatan, khususnyayang bertugas di Posyandu, memainkan peran yang sangat penting dalam upaya pencegahandan deteksi dini risiko kehamilan pada ibu hamil. Namun, kompetensi dan efikasi diri kaderkesehatan dalam mendeteksi kehamilan berisiko masih memerlukan penguatan lebih lanjut.Sebagai upaya pemberdayaan, kader Bhayangkari dipilih untuk menjalankan peran strategis inimelalui pelatihan berbasis teknologi. Salah satu inovasi yang diterapkan adalah penggunaanaplikasi mobile bernama KABARI (Kader Bhayangkari), yang dirancang untuk mendukungkader dalam melakukan deteksi dini kehamilan berisiko secara lebih efektif dan efisien.Tujuan Penelitian Model KABARI dirancang sebagai sebuah inovasi dalam promosikesehatan digital yang bertujuan mendukung kader kesehatan dan ibu hamil dalam mendeteksisecara dini kehamilan berisiko. Pengembangan aplikasi ini menggunakan pendekatanmetodologi ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), yangmerupakan kerangka sistematis untuk merancang, mengembangkan, dan mengevaluasiintervensi berbasis teknologi. Model KABARI, secara khusus, difokuskan pada peningkatanpengetahuan dan keterampilan kader serta ibu hamil melalui pelatihan yang terstruktur danpemberian akses informasi kesehatan berbasis digital. Aplikasi ini dilengkapi dengan berbagaifitur yang tidak hanya menyediakan informasi, tetapi juga memfasilitasi komunikasi danrujukan untuk kasus kehamilan berisiko tinggi. Dengan adanya fitur ini, intervensi dapatdilakukan secara lebih cepat dan tepat waktu, sehingga potensi komplikasi kehamilan dapatdiminimalkan.Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan desain Research and Development (R&D)dengan pendekatan model ADDIE yang mencakup lima tahap utama, yaitu: analisis, desain,pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Populasi penelitian mencakup seluruh kaderkesehatan yang berada di Kabupaten Tana Paser pada tahun 2023. Sebagai subjek penelitian,200 kader posyandu dipilih dari seluruh puskesmas di Kabupaten Tana Paser. Subjek penelitiandiambil dari 48 posyandu yang tersebar di lima puskesmas melalui metode simple randomsampling. Selanjutnya, subjek penelitian dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kelompokeksperimen dan kelompok kontrol. Kader yang tergabung dalam kelompok eksperimen akanmengikuti pelatihan menggunakan aplikasi KABARI untuk mendukung deteksi dini kehamilanberisiko. Setelah pelatihan, setiap kader terlatih akan melakukan deteksi dini terhadap dua ibuhamil sebagai bagian dari implementasi model. Analisis data dalam penelitian ini dilakukanmenggunakan uji t-test untuk menguji efektivitas pelatihan dan penggunaan aplikasi terhadappeningkatan kompetensi kader dalam mendeteksi kehamilan berisiko.Hasil Penelitian Kader kesehatan menyatakan bahwa aplikasi KABARI mudah digunakan dantidak memerlukan keterampilan teknis yang kompleks, sehingga dapat dengan cepat diadopsioleh pengguna dari berbagai latar belakang. Model KABARI terbukti efektif dalammeningkatkan kompetensi kader dan ibu hamil dalam deteksi dini kehamilan berisiko. Hasilpost-test menunjukkan peningkatan signifikan pada berbagai aspek, yaitu pengetahuan kadermeningkat dari rata-rata 11,68 menjadi 13,20, sikap dari 52,80 menjadi 56,70, danketerampilan dari 17,98 menjadi 18,85. Selain itu, aplikasi KABARI juga meningkatkanpersepsi Perceived Usefulness dan Perceived Ease of Use pada ibu hamil dalam melakukandeteksi dini kehamilan berisiko. Evaluasi efektivitas aplikasi ini menunjukkan hasil yangsignifikan secara statistik dengan nilai p-value < 0,000. Penggunaan aplikasi KABARI secaranyata membantu kader memahami prosedur deteksi kehamilan berisiko sekaligusmeningkatkan keterampilan teknis mereka, sehingga dapat memberikan kontribusi yangsubstansial dalam mendukung layanan kesehatan ibu dan anak.Pembahasan Deteksi dini kehamilan berisiko merupakan salah satu upaya strategis dalamkesehatan masyarakat yang bertujuan untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakanibu dan bayi. Keberhasilan deteksi dini ini sangat dipengaruhi oleh motivasi, kompetensi, danself-efficacy kader dalam memberikan layanan kesehatan kepada ibu hamil. Kader yangmemiliki pemahaman mendalam tentang tanda-tanda komplikasi kehamilan dan pentingnyakunjungan prenatal dapat berperan aktif dalam mengurangi risiko komplikasi kehamilan secarasignifikan. Pentingnya pelatihan dan peningkatan kompetensi kader dalam mendukung kualitaslayanan kesehatan ibu hamil telah didukung oleh berbagai penelitian. Studi yang dilakukanoleh Aulia dan Susilawati (2021) menunjukkan bahwa peran kader dalam memberikanpendampingan serta informasi kesehatan terbukti mampu meningkatkan pengetahuan ibuhamil. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Sunaryo (2022) menegaskan bahwaketerlibatan satu kader untuk mendampingi satu ibu hamil secara personal memberikankontribusi positif terhadap penurunan angka kematian ibu. Temuan ini menggarisbawahidampak signifikan dari pelaksanaan program deteksi dini yang berbasis kader sebagai salahsatu solusi dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan ibu dan anak.Kesimpulan Model KABARI, yang melibatkan anggota Bhayangkari sebagai agen pembaharudalam proses difusi informasi, terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi, kompetensi, danself-efficacy kader dalam mendeteksi dini kehamilan berisiko. Pendekatan ini mempermudahkader dalam memberikan dukungan kepada ibu hamil secara lebih terstruktur dan efisien.Aplikasi KABARI, sebagai bagian integral dari model ini, dirancang untuk dapat diaksessecara luas selama tersedia jaringan internet. Fitur-fitur yang disediakan dalam aplikasi inimendukung kader dalam menyampaikan informasi kesehatan, melakukan deteksi dini, sertamemberikan rujukan secara tepat waktu, sehingga meningkatkan kualitas layanan kesehatanibu dan anak secara signifikan.SUMMARYMorita Dwi Tinaningsih “KABARI” as a Digital Health Promotion Model to Improve EarlyDetection Competence of High-Risk Pregnancy, Doctoral Program in CommunityDevelopment/Empowerment Counseling, Postgraduate School of Sebelas Maret UniversitySurakarta. Chair of the Promoter Commission: Prof. Dr. Sri Sulistyowati, dr., Sp. OG (K);Co-Promoter I: Prof. Dr. Mahendra Wijaya, MS; Co-Promoter II: Dr. Ir. Sugiharjo, MSIntroduction The maternal mortality rate (MMR) in Indonesia remains a critical public healthconcern that warrants immediate and focused attention. According to data from 2020,Indonesia’s MMR stood at 305 deaths per 100,000 live births, a figure significantly above thetarget established by the Sustainable Development Goals (SDGs), which aim to reducematernal mortality to 70 deaths per 100,000 live births by 2030. Maternal and infant mortalityconstitute a global challenge, particularly in developing countries like Indonesia, where accessto quality healthcare services is often limited. Several primary factors contribute to Indonesia’shigh MMR, including hemorrhage, infection, hypertension, and unsafe abortion practices.These issues are further compounded by disparities in access to healthcare, inadequate healtheducation within communities, and a general lack of awareness regarding maternal and childhealth. To address these pressing challenges, the Indonesian Government has implemented aseries of strategic initiatives, such as the Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS)program and the Healthy Living Community Movement (GERMAS), both of which aim toreduce maternal mortality and enhance the quality of maternal and child health services. Healthcadres, particularly those stationed at community health posts (Posyandu), play a pivotal rolein preventing and identifying high-risk pregnancies. Despite their critical function, thecompetence and self-efficacy of these cadres in detecting pregnancy-related risks requirefurther development and reinforcement. As part of an empowerment initiative, Bhayangkaricadres have been identified to assume this strategic role, supported by technology-basedtraining programs. One such innovation is the introduction of the mobile application KABARI(an acronym for Bhayangkari Cadre/ Kader Bhayangkari), specifically designed to enablecadres to perform early detection of high-risk pregnancies with greater efficiency andeffectiveness. This approach represents a significant step forward in improving maternal healthoutcomes in Indonesia.Research objectives The KABARI model represents a significant innovation in digital healthpromotion, specifically designed to assist health cadres and pregnant women in the earlydetection of high-risk pregnancies. The development of this application is guided by theADDIE methodology (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation), asystematic framework widely utilized in the design, development, and evaluation oftechnology-based interventions. The KABARI model emphasizes the enhancement ofknowledge and skills among health cadres and pregnant women through structured trainingprograms and access to digital health information. The application is equipped with a range offeatures that extend beyond information dissemination to include functionalities for facilitatingcommunication and referrals in cases of high-risk pregnancies. These features enable timelyand effective interventions, thereby reducing the likelihood of pregnancy-related complicationsand contributing to improve maternal and child health outcomes.Research method This study employs a Research and Development (R&D) design, utilizingthe ADDIE model approach, which comprises five main stages: analysis, design, development,implementation, and evaluation. The study population consists of all health cadres in TanaPaser Regency in 2023. A total of 200 health cadres from integrated health posts (Posyandu)were selected as research subjects, representing all health centers in Tana Paser Regency. Thesecadres were drawn from 48 integrated health posts distributed across five health centers, usinga simple random sampling method. The selected subjects were then divided into two groups:an experimental group and a control group. Cadres in the experimental group underwenttraining on the use of the KABARI application to facilitate the early detection of high-riskpregnancies. Following the training, each trained cadre implemented the model by conductingearly detection of at-risk pregnancies for two pregnant women. Data analysis was performedusing a t-test to evaluate the effectiveness of the training and the application’s usage inimproving the competence of cadres in identifying high-risk pregnancies. This approachallowed for an assessment of the impact of the intervention on enhancing the technicalcapabilities of health cadres in maternal health care.Research result Health cadres reported that the KABARI application is user-friendly and doesnot require advanced technical skills, making it easily adoptable by individuals from diversebackgrounds. The implementation of the KABARI model has demonstrated its effectivenessin enhancing the competence of health cadres and pregnant women in the early detection ofhigh-risk pregnancies. Results from the post-test revealed a significant improvement acrossmultiple dimensions: cadre knowledge increased from an average score of 11.68 to 13.20,attitudes improved from 52.80 to 56.70, and skills from 17.98 to 18.85. Furthermore, theKABARI application significantly enhanced pregnant women’s perceptions of PerceivedUsefulness and Perceived Ease of Use in conducting early detection of high-risk pregnancies.The evaluation of the application’s effectiveness yielded statistically significant results, with ap-value < 0.000. The utilization of the KABARI application has proven instrumental in aidingcadres to understand the procedures for identifying high-risk pregnancies while simultaneouslyimproving their technical capabilities, highlighting its substantial contribution to advancingmaternal and child health services, particularly in resource-constrained settings.Discussion Early detection of high-risk pregnancies is a critical strategy in public health aimedat preventing complications that can jeopardize the health of both mothers and babies. Thesuccess of such early detection efforts is heavily influenced by the motivation, competence,and self-efficacy of health cadres in delivering services to pregnant women. Cadres whopossess a thorough understanding of the signs of pregnancy complications and the importanceof prenatal visits are better equipped to play an active role in mitigating the risks associatedwith pregnancy complications. The significance of training and enhancing the competencies ofhealth cadres in improving the quality of maternal healthcare services has been substantiatedby several studies. A study by Aulia and Susilawati (2021) demonstrated that the involvementof health cadres in providing guidance and health information led to a measurable increase inthe knowledge of pregnant women. Additionally, research by Sunaryo (2022) confirmed thatthe personalized involvement of a single cadre accompanying each pregnant womancontributed positively to reducing maternal mortality rates, emphasizing the profound impactof cadre-based early detection programs as a viable solution for improving the overall qualityof maternal and child health.Conclusion The KABARI model, which incorporates Bhayangkari members as agents ofchange in the diffusion of information, has demonstrated effectiveness in enhancing themotivation, competence, and self-efficacy of health cadres in the early detection of high-riskpregnancies. This model provides a structured and efficient framework that enables cadres todeliver support to pregnant women in a more systematic manner. The KABARI application, asa fundamental element of this model, is designed to be widely accessible, provided that aninternet connection is available. The application’s integrated features assist health cadres in thedissemination of health information, the early detection of high-risk pregnancies, and thefacilitation of timely referrals. These functionalities substantially contribute to theimprovement of maternal and child health services, thereby enhancing both the quality andefficiency of care provided to at-risk populations.