Latar Belakang: Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan bawah yang ditandai oleh peradangan pada jaringan paru terutama alveoli, sehingga menimbulkan gejala yang bervariasi dari ringan hingga mengancam jiwa. Pada kelompok balita, penyakit ini menjadi salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas tertinggi. Di sisi lain, berat badan lahir rendah (BBLR) yang didefinisikan sebagai berat badan <2.500 gram pada saat lahir sering kali mencerminkan kondisi maturasi organ yang belum optimal, termasuk sistem imun dan sistem pernapasan. Kekurangan tersebut membuat balita dengan riwayat BBLR lebih rentan terhadap penularan infeksi, termasuk pneumonia. Penelitian ini disusun untuk mengetahui hubungan antara BBLR dengan kejadian pneumonia pada balita di RSUD Kabupaten Karanganyar.Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sebanyak 64 balita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diikutsertakan. Data dikumpulkan dari rekam medis periode Januari 2024 hingga September 2025 di RSUD Kabupaten Karanganyar, kemudian hubungan antara BBLR dengan kejadian pneumonia dianalisis menggunakan uji Chi-Square.Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa balita dengan riwayat BBLR memiliki proporsi pneumonia yang lebih tinggi dibandingkan balita dengan BBLC, didapatkan hasil uji statistik p=0,008. Sementara itu, usia dan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kejadian pneumonia dikarenakan ditemui hasil p>0,05.Simpulan: Terdapat hubungan antara BBLR dengan kejadian pneumonia pada balita di RSUD Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini juga memberikan gambaran epidemiologis terkini yang bermanfaat untuk perencanaan strategi pencegahan, deteksi dini, dan pengelolaan kasus pneumonia pada kelompok usia rentan di wilayah Kabupaten Karanganyar.Kata Kunci: Berat badan lahir rendah (BBLR), pneumonia, balita, faktor risiko.