Pembelian impulsif merupakan kecenderungan membeli barang secara
spontan, cepat, dan tanpa perencanaan matang yang lebih didorong oleh dorongan
emosional dibandingkan pertimbangan rasional. Fenomena ini semakin
berkembang dalam konteks belanja online dan banyak terjadi pada kelompok
dewasa awal yang berada pada fase eksplorasi identitas dan pencarian status sosial.
Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan materialisme dengan pembelian
impulsif pada konsumen online dewasa awal (18–25 tahun) yang aktif melakukan
pembelian online dalam satu bulan terakhir di Indonesia dengan menguji tiga
dimensi materialisme (acquisition centrality, acquisition as the pursuit of
happiness, possession-defined success). Penelitian menggunakan desain kuantitatif
dengan pendekatan survei dan teknik purposive sampling (N = 305). Instrumen
yang digunakan adalah Impulsive Buying Tendency Scale (IBTS) dan Material
Value Scale (MVS). Persiapan alat ukur dilakukan melalui penilaian validitas isi
oleh para ahli untuk memastikan kesesuaian item dengan konstruk serta uji
keterbacaan pada partisipan yang memiliki karakteristik serupa untuk memastikan
kejelasan item. Selanjutnya uji coba skala dilakukan untuk memperoleh bukti
validitas struktur internal melalui Confirmatory Factor Analysis (CFA) dan
reliabilitasnya melalui McDonald’s Omega. Analisis hubungan antarvariabel
dilakukan menggunakan path analysis dengan bootstrap 5000 resampling. Hasil
menunjukkan bahwa model memiliki kecocokan yang memadai. Secara parsial,
acuisition centrality (p < .001) dan possession-defined success (p < .001) memiliki
hubungan signifikan dan positif dengan pembelian impulsif, sedangkan acquisition
as the pursuit of happiness (p > .05) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
Model menjelaskan 72% varians pembelian impulsif. Temuan ini menunjukkan
bahwa orientasi identitas dan status melalui kepemilikan materi berkaitan lebih kuat
dengan pembelian impulsif dibandingkan orientasi kebahagiaan.